Bank Mandiri menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026. Kinerja ekonomi yang tetap solid pada semester I dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi nasional melampaui perkiraan sebelum itu yang sebesar 5,2%.
Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri Diah Ayu Yustina menuturkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia meningkat 5,45% pada semester I-2026.
Dengan perkembangan tersebut, Bank Mandiri kini melihat pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun berjalan berpotensi menyentuh sekitar 5,34%. "Kalau untuk overall year, nowcasting dari pertumbuhan ekonomi Indonesia ini bisa di atas proyeksi kami sebelum itu di 5,2%," ujar Diah dalam Mandiri Macro and Market Brief Q3 2026 secara virtual, Kamis (3/9/2026). Menurut Diah, terdapat dua motor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026, yakni belanja pemerintah dan investasi.
Belanja pemerintah tercatat masih meningkat sekitar 16% pada kuartal II-2026. Meski melambat dibandingkan kuartal sebelum itu yang menyentuh 21%, pertumbuhan tersebut tetap menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi domestik.
Ringkasnya, diah menjelaskan, akselerasi belanja pemerintah terutama berasal dari pelaksanaan berbagai program prioritas, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, hingga pembangunan infrastruktur. "Belanja pemerintah ini masih sangat ditopang oleh akselerasi atau percepatan belanja terkait dengan program-program prioritas," katanya. Selain belanja negara, investasi juga menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Pertumbuhan investasi pada kuartal II-2026 menyentuh 6,9%, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelum itu, alhasil turut memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga mengalami moderasi.
Pada kuartal II-2026, konsumsi rumah tangga meningkat 5,1%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,5% pada kuartal I-2026. Sementara itu, Diah menilai perlambatan tersebut tidak mengindikasikan pelemahan daya akumulasi yang serius.
Menurutnya, konsumsi pada kuartal pertama terdorong faktor musiman Ramadan dan Lebaran yang secara historis meningkatkan aktivitas belanja masyarakat. "Kuartal satu ini adalah periode yang musiman, secara musiman memang konsumsinya tinggi karena ada periode Lebaran," ujarnya. Dengan kombinasi belanja pemerintah yang masih ekspansif dan investasi yang terus terangkat, Bank Mandiri memandang fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. "Jadi kalau kita lihat prognosa di 2026 kami melihat mungkin pertumbuhan ekonomi bisa di atas 5,3%, angkanya sekitar 5,34%, di atas proyeksi kami sebelum itu di 5,2%," kata Diah.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

