Mandiri Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berkutat di level 6.800 pada akhir 2026. Bahkan, dalam skenario optimistis atau bull case, indeks berpeluang menembus level 7.500.
Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat menuturkan optimisme tersebut didasarkan pada fundamental emiten yang masih solid, pertumbuhan laba yang terjaga, hingga potensi pemulihan aliran dana investor asing pada semester II-2026. "Kami memproyeksikan bahwa nanti di akhir tahun 2026 IHSG harusnya bisa berkutat di 6.800," ujar Kresna dalam Mandiri Macro and Market Brief Q3 2026 secara virtual, Kamis (3/9/2026). Menurutnya, tekanan yang membayangi pasar saham Indonesia sepanjang semester I-2026 lebih banyak dipicu oleh persoalan arus dana dan sentimen ketimbang pelemahan fundamental.
Penurunan IHSG berlangsung di tengah kinerja pendapatan dan laba emiten utama yang masih meningkat positif, bahkan berada di level dua digit. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar Mandiri Sekuritas mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham pada paruh kedua tahun berjalan.
Kresna menuturkan tekanan lepas investor asing mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Net foreign outflow pada Juli dan Agustus telah menyusut, meski secara year-to-date dana asing yang keluar dari pasar saham masih cukup besar.
Perbaikan sentimen tersebut didukung oleh stabilisasi nilai tukar rupiah serta respons kebijakan moneter dan fiskal yang dinilai semakin sesuai dengan ekspektasi pasar. Selain itu, arah imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga berubah menjadi perhatian.
Stabilitas bond yield dinilai berpotensi membantu menurunkan risk-free rate yang berubah menjadi salah satu faktor dalam valuasi saham. Mandiri Sekuritas melihat perbaikan indikator-indikator tersebut berpotensi mendorong terjadinya pemulihan valuasi atau valuation re-rating di pasar saham Indonesia.
Dalam skenario dasar, Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG berada di kisaran 6.800 pada akhir tahun. Sementara itu, jika equity risk premium dapat membaik lebih cepat dan risk-free rate bergerak lebih rendah, IHSG berpeluang menyentuh level 7.500. "Proyeksi kami secara bull case-nya, jika memang adanya equity risk premium yang lebih baik, misalkan direfleksikan dengan risk-free rate yang lebih rendah kembali, itu harusnya bisa ke 7.500," kata Kresna.
Mandiri Sekuritas juga lebih optimistis terhadap IDX80. Indeks tersebut diproyeksikan masih memiliki potensi kenaikan sekitar 8%-10% menuju level 107, ditopang pertumbuhan earnings per share (EPS) yang diestimasi stabil sekitar 11%.
Proyeksi Mandiri Sekuritas tidak hanya bertumpu pada faktor makro dan arus dana. Kinerja fundamental emiten juga berubah menjadi pilar utama.
Pertumbuhan laba emiten pada semester I-2026 tercatat menyentuh sekitar 12%. Menariknya, pertumbuhan tersebut dinilai semakin merata dan tidak hanya ditopang sektor perbankan.
Sektor sumber daya alam, telekomunikasi, otomotif, kesehatan, hingga minyak dan gas turut berubah menjadi motor pertumbuhan laba emiten. Kresna menilai kondisi tersebut menunjukkan ketahanan fundamental industri Indonesia dalam menghadapi berbagai tekanan makro.
Ringkasnya, untuk semester II-2026, Mandiri Sekuritas menaruh perhatian pada sejumlah sektor yang dinilai memiliki prospek menarik. Sektor tersebut mencakup emas, tembaga dan nikel, minyak dan gas, kesehatan, tembakau, telekomunikasi, serta keuangan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

