PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyatakan kesiapannya menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Perseroan telah menjalankan uji ketahanan atau stress test sesuai arahan regulator.
Hasil tes tersebut menunjukkan posisi modal BCA masih sangat kuat. Rasio permodalan perseroan kini berada di kisaran 29%. Angka ini jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan pemerintah.
Direktur BBCA, Subur Tan, menjelaskan kualitas kredit perusahaan juga tetap terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 1,8%.
Meskipun ada sedikit kenaikan pada rasio Loan at Risk (LAR), manajemen menilai kondisinya masih sangat terkontrol. BCA juga telah menyiapkan cadangan yang sangat memadai untuk memitigasi risiko tersebut.
โHasilnya saya rasa masih cukup membesarkan hati ya,โ ujar Subur dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Direktur BBCA, John Kosasih, menyoroti dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik tersebut mulai memengaruhi sektor-sektor tertentu, terutama industri plastik.
Kenaikan harga material plastik menjadi tantangan utama bagi debitur di sektor ini. BCA terus menjalin komunikasi intensif dengan nasabah untuk memantau kondisi usaha mereka.
Manajemen juga meninjau langkah mitigasi yang disiapkan oleh para debitur. Sejauh ini, risiko kredit dari dampak geopolitik tersebut masih terkendali.
โPara nasabah ini masih tetap menjalankan usaha dengan baik dan kita akan terus memonitor kondisinya,โ kata John.
Terkait reli harga komoditas dan energi, John menilai nasabah korporasi sudah lebih siap. Kondisi makro ekonomi global yang tidak menentu sudah diantisipasi oleh para pelaku usaha.
BCA terus berkoordinasi agar para debitur mampu menghadapi berbagai kemungkinan risiko ke depan. Langkah antisipasi ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum fluktuasi harga energi berlangsung.
โPara nasabah kita para debitur-debitur kita ini juga sudah pasang kuda-kuda,โ jelas John.
BCA membukukan pertumbuhan kinerja positif pada awal tahun 2026. Hingga Maret 2026, total kredit BCA naik 5,6% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi Rp994 triliun.
Pertumbuhan ini ditopang oleh kredit produktif yang menyentuh Rp760,2 triliun atau naik 7,8% YoY. Dari sisi profitabilitas, BCA dan entitas anak membukukan laba total Rp14,7 triliun.
Penyaluran kredit tetap didukung oleh pendanaan yang solid. Total Dana Pihak Ketiga (DPK) menyentuh Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3% YoY.
Dana giro dan tabungan (Current Account Saving Account/CASA) masih mendominasi dengan porsi 85,2% dari total DPK. Nilai CASA tercatat sebesar Rp1.089 triliun atau tumbuh 11,2% YoY.
Presiden Direktur BBCA, Hendra Lembong optimistis kinerja perusahaan tetap solid. Momentum Ramadan dan Idulfitri turut mendukung pertumbuhan kredit di awal tahun berjalan.
BCA juga terus memperkuat komitmen pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Kredit ke sektor berkelanjutan tumbuh 10,0% YoY menjadi Rp258,4 triliun.
Penyaluran kredit UMKM tumbuh 12% YoY dengan posisi Rp146 triliun. Sementara itu, pembiayaan hijau (green financing) menyentuh Rp113 triliun, tumbuh 7,7% YoY.
Sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menunjukkan reli signifikan. Pembiayaan pada sektor ini naik 53,5% YoY.
Guna menjaga kualitas aset, BCA menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Rasio pencadangan NPL berada pada level yang sangat kuat, yakni 174,6%. Sementara rasio pencadangan LAR tercatat sebesar 69,7%.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.
