Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang masih terus tertekan di tengah tren kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus jadi sorotan publik dan pelaku pasar.
Pasalnya, saham perbankan tersebut sebelum itu bisa dianggap sebagai salah satu idaman investor (investor darling) yang hampir selalu jadi sasaran akumulasi saham, manakala harganya sedikit melandai.
Sementara itu, anomali pun berlangsung ketika saham BBCA justru sudah cukup lama tertekan oleh aksi jual, alhasil harganya betah berada di level bawah. Misalnya pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (17/6/2026), saham BBCA dibanderol Rp6.425 per saham, atau turun 18,41 persen dibanding harga pada hari sebelum itu.
Padahal jika ditarik ke belakang hingga enam bulan terakhir, harga saham BBCA pernah menyentuh Rp8.700 per saham pada 5 November 2025 lalu. Atau bahkan dalam setahun ke belakang, harga saham bank milik Grup Djarum ini bahkan sempat mengenai Rp9.700 per saham pada 21 Mei 2025 lalu.
"Makanya jangan heran jika direksi Perseroan justru konsisten beli saham BBCA, di tengah tekanan jual yang ada. Maka ini jelas momentum langkah, di tengah fluktuasi pasar, petinggi BBCA bukannya defensif, tapi malah agresif dengan akumulasi sahamnya sendiri," ujar Pengamat Pasar Modal, Rendy Yefta, dalam keterangan resminya, Minggu (19/4/2026).
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.
