PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) membukukan kinerja solid pada Semester I 2026 setelah menuntaskan transformasi teknologi. Jumlah nasabah Perseroan menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah BSI atau all-time high.
Ringkasnya, hingga Juni 2026, jumlah nasabah BSI tercatat 24,3 juta, tertinggi sejak Perseroan berdiri. Tren pertumbuhan nasabah terlihat sejak Januari 2026.
Memasuki Mei 2026, setelah transformasi teknologi rampung, jumlah nasabah meningkat di atas 200 ribu per bulan. Pertumbuhan itu menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan BSI.
Ringkasnya, sCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Peningkatan nasabah turut memperbesar potensi pengembangan bisnis melalui dana murah, pembiayaan, transaksi digital, wealth management, bisnis emas, hingga layanan haji dan umrah. Kondisi ini diperkuat kombinasi dual licence sebagai bank syariah dan bank emas atau bulion.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menuturkan investasi besar yang dilakukan Perseroan dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas sistem teknologi informasi. Investasi itu juga ditujukan untuk membangun pengalaman transaksi yang lebih cepat, aman, dan andal bagi jutaan nasabah. "Bagi BSI, teknologi telah menjadi mesin pertumbuhan bisnis.
Semakin baik pengalaman nasabah, semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar akuisisi nasabah, dan semakin luas peluang untuk mengembangkan seluruh ekosistem layanan keuangan syariah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/8). Berdasarkan Anggoro, penguatan kapabilitas teknologi meningkatkan kapasitas sistem BSI secara signifikan.
Kapasitas itu mampu mengakomodasi pertumbuhan volume transaksi dan jumlah pengguna digital yang terus meningkat. Fondasi teknologi yang semakin kuat berubah menjadi landasan BSI untuk terus mengembangkan layanan digital melalui BYOND by BSI.
Aplikasi itu kini berubah menjadi kanal utama transaksi nasabah dengan berbagai layanan perbankan syariah. Interaksi nasabah pada BYOND by BSI tercermin dari 1 miliar akses login sepanjang 2026.
Ringkasnya, melalui BYOND by BSI, nasabah memperoleh pengalaman layanan yang semakin terintegrasi dalam satu platform digital. Layanan itu mencakup transaksi harian, investasi, pembiayaan, pengelolaan emas, pengelolaan haji, hingga layanan keuangan lainnya.
BSI juga terus memperluas solusi digital melalui Hasanah KKI Card Digital. Hasanah KKI Card Digital adalah kartu KKI syariah pertama di Indonesia secara bersamaan strategi memperkuat penetrasi pembiayaan ritel.
Melalui Hasanah Digital, kartu pembiayaan virtual tanpa kartu fisik, nasabah berpotensi mengakses pembiayaan lebih mudah, fleksibel, dan real time melalui aplikasi BYOND by BSI. Nasabah berpotensi mengakses limit pembiayaan mulai dari Rp4 juta hingga Rp100 juta.
Sejumlah fitur yang tersedia antara lain cicilan 0%, sumber dana pembayaran QRIS, pemantauan limit, tagihan, riwayat transaksi, hingga notifikasi transaksi secara real time. Inovasi itu diharapkan memperluas akses pembiayaan secara bersamaan meningkatkan aktivitas transaksi digital nasabah.
BYOND by BSI juga dilengkapi sejumlah fitur unggulan lain. Fitur tersebut antara lain Nabung Rutin Haji, Gadai dari Cicil Emas yang diproyeksikan lunas, hingga pembukaan rekening tabungan yang terintegrasi dengan tabungan emas dan tabungan haji.
BYOND by BSI juga menghadirkan fitur BYOND Affiliate, mekanisme referral baru bagi nasabah yang merekomendasikan BYOND. Melalui BYOND Affiliate, nasabah berpotensi memperoleh reward menarik sebagai affiliator.
Ringkasnya, penguatan digital itu turut memperbesar ekosistem bisnis BSI. Hingga Juni 2026, Perseroan melayani 7,69 juta nasabah haji dan 1,22 juta nasabah emas.
BSI juga melayani 594,6 ribu nasabah cicil emas dan 209,7 ribu nasabah gadai emas. Di samping itu, BSI membukukan lebih dari 585 ribu merchant QRIS.
Ringkasnya, ekosistem yang terus berkembang memperkuat posisi BSI sebagai bank syariah nasional dengan layanan yang lengkap dan modern. Penguatan fondasi teknologi berjalan seiring dengan pertumbuhan kinerja keuangan yang sehat.
Ringkasnya, hingga Juni 2026, BSI membukukan laba bersih Rp4,16 triliun, meningkat 11% secara tahunan. Pertumbuhan laba didukung ekspansi bisnis yang berkualitas, peningkatan kontribusi bisnis emas, serta penghimpunan dana yang semakin kuat.
Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 22% menjadi Rp393 triliun. Pertumbuhan DPK didorong peningkatan dana murah atau CASA menjadi Rp238 triliun.
Pertumbuhan CASA berasal dari tabungan senilai Rp173 triliun dan giro senilai Rp65,5 triliun. Komposisi pendanaan yang semakin efisien menurunkan Cost of Fund berubah menjadi 2,19%.
Penurunan itu memberi ruang lebih besar bagi Perseroan untuk meningkatkan daya saing secara bersamaan menjaga profitabilitas. Di sisi intermediasi, pembiayaan BSI meningkat merata di seluruh segmen bisnis.
Pembiayaan wholesale menyentuh Rp95 triliun, pembiayaan ritel dan UMKM sebesar Rp55,83 triliun, sementara pembiayaan konsumer naik ke Rp189,25 triliun. Pertumbuhan pembiayaan tetap diiringi kualitas aset yang terjaga.
Hal ini tercermin dari NPF Gross senilai 1,80% dan NPF Net senilai 0,33%. Diversifikasi sumber pendapatan turut semakin kuat.
Fee Based Income meningkat 38,15% menjadi Rp4,1 triliun, didorong ekosistem bisnis BSI termasuk bisnis emas dan transaksi digital. Secara keseluruhan, total aset BSI menyentuh Rp464,5 triliun, meningkat 16% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya.
Anggoro menekankan peningkatan jumlah nasabah bukan tujuan akhir, melainkan awal dari peluang pertumbuhan bisnis yang lebih besar. "Dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, kapasitas sistem yang semakin andal, dan basis nasabah yang terus meningkat, kami memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendalaman hubungan dengan nasabah melalui berbagai solusi keuangan syariah," papar dia. Ke depan, kata Anggoro, fokus BSI bukan hanya menambah jumlah nasabah.
Ringkasnya, fokus itu juga mencakup peningkatan nilai yang diberikan kepada setiap nasabah melalui layanan digital yang relevan, mudah, dan terintegrasi.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

