PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menyatakan bersiap mengikuti kebijakan pembagian komisi baru sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Meski kebijakan tersebut berpotensi menekan bisnis on-demand services (ODS), kinerja perseroan dinilai masih akan ditopang oleh lini bisnis lainnya, terutama sektor fintech.
Dalam konferensi pers pada 19 Mei 2026, manajemen GOTO menyatakan bersiap menerapkan skema pembagian komisi sebesar 92% untuk mitra pengemudi dan 8% untuk aplikator pada layanan roda dua.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, manajemen GOTO juga diproyeksikan mengoptimalkan lini bisnis lain untuk menopang dampak perubahan skema komisi tersebut terhadap pendapatan perusahaan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, menilai kebijakan itu memang diproyeksikan memengaruhi pendapatan bisnis On Demand Services (ODS), khususnya layanan GoRide milik GOTO.
Sementara itu, menurut Kafi, GOTO tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan karena memiliki ekosistem bisnis yang terintegrasi dan terdiversifikasi.
Ringkasnya, baca Juga: IHSG Rebound ke 6.351, Top Gainers LQ45: BUMI, HRTA dan INKP, Kamis (21/5)
Ringkasnya, “Sebagai ekosistem, GOTO memiliki sumber pendapatan yang terdiversifikasi. Tidak hanya bertumpu pada ODS, tetapi ada fintech, logistik, dan e-commerce service fee,” ujar Kafi, Kamis (21/5).
Menurutnya, bisnis fintech kini berubah menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan dan profitabilitas GOTO dalam beberapa kuartal terakhir.
Kafi mengungkap bisnis fintech GOTO masih memiliki ruang pertumbuhan besar mengingat penetrasi layanan keuangan digital di Indonesia masih sangat luas.
Ringkasnya, “Ada 27,5 juta pengguna bertransaksi per bulan di fintech GOTO. Angka itu signifikan, tetapi potensi pasarnya masih jauh lebih besar,” katanya.
Berdasarkan laporan kuartal I-2026, pendapatan bersih fintech GOTO meningkat 58% secara tahunan menjadi Rp1,9 triliun.
Ringkasnya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh akuisisi pengguna yang solid, pertumbuhan bisnis pembayaran, serta kenaikan nilai buku pinjaman secara berkelanjutan.
Di sisi lain, aplikasi GoPay membukukan nilai buku pinjaman sebesar Rp9,9 triliun atau meningkat 59% dibandingkan periode sama tahun sebelum itu.
Kafi menilai pertumbuhan kredit tersebut masih diimbangi kualitas pembiayaan yang terjaga melalui pengelolaan risiko berbasis data.
“Fintech telah berubah menjadi growth and profitability engine untuk GOTO. Model bisnis GOTO juga berubah menjadi semakin solid dan resilien,” ungkapnya.
Kafi optimistis GOTO masih mampu mengoptimalkan lini bisnis lain meski layanan GoRide menghadapi penyesuaian komisi berubah menjadi 8%.
Berdasarkan dia, GOTO masih berada di jalur yang tepat untuk berubah menjadi emiten teknologi dengan fundamental bisnis yang semakin kuat.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

