Bisnis sewa menara diproyeksi tetap menjadi penopang utama kinerja PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) ke depan. Sementara itu demikian, kondisi makroekonomi hingga pesanan dari mobile network operator (MNO) alias operator seluler perlu menjadi perhatian perseroan.
Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menyoroti laba bersih MTEL pada kuartal I – 2026 yang menyentuh Rp545 miliar, naik 3,6% secara year on year (yoy). Kinerja tersebut didorong oleh biaya keuangan yang lebih rendah yang turun sebesar 19,4% yoy dan mempertahankan margin yang solid sebesar 23,8% dibanding kuartal I – 2025 yang sebesar 23,3%.
“Kinerja MTEL didukung oleh ekspansi bisnis di segmen fiber optik yang meningkat signifikan sebesar 8,5% yoy dan kontribusinya naik ke 6,6% dari total pendapatan,” ujar Leonardo dalam risetnya pada 18 Mei 2026.
Leonardo memperkirakan kinerja MTEL pada tahun berjalan didorong oleh bisnis penyewaan menara yang stabil, manajemen biaya yang disiplin, dan permintaan fiber yang terus meningkat. Ia membukukan pendapatan segmen sewa menara menyentuh Rp1,85 triliun pada kuartal I – 2026.
Bisnis terkait menara meningkat menjadi Rp166 miliar (naik 12,9% yoy) sementara reseller menara tetap stabil di Rp128 miliar (naik 0,8% yoy).
Baca Juga: Membidik Pertumbuhan Kinerja di 2026, Mitratel (MTEL) Menyiapkan Capex Rp2,9 Triliun
“Pertumbuhan bisnis terkait menara mencerminkan portofolio selektif menuju margin yang lebih tinggi, mengoptimalkan pendapatan bisnis MTEL. Hingga Q1 2026, total menara menyentuh 40.327 unit,” ucap Leonardo.
Kemudian, pertumbuhan fiber optik tetap meningkat. Segmen fiber optik membukukan pertumbuhan 8,5% yoy menjadi Rp152 miliar pada kuartal I – 2026. MTEL membukukan penambahan jaringan fiber optik sepanjang 1.080 km, alhasil total jaringan fiber optik menyentuh 58.279 km pada kuartal pertama tahun 2026. Dari segi komposisi, 54% berlokasi di luar Jawa.
“Meskipun segmen fiber optik menyumbang 6,6%, segmen ini terus berubah menjadi mesin pertumbuhan utama bagi MTEL, mengimbangi kinerja bisnis penyewaan menara yang relatif stagnan,” kata Leonardo.
Leonardo mengungkap bahwa Telkomsel tetap menjadi operator penyewa terbesar. Pendapatan dari Telkomsel meningkat sebesar 5,0% secara tahunan menjadi Rp1,23 triliun pada kuartal I – 2026, alhasil kontribusinya naik ke 54% dari 53%.
Sementara itu, pendapatan dari operator lain yakni PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) meningkat sebesar 16,8% yoy pasca-merger menjadi Rp324 miliar pada kuartal I – 2026. Sementara PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan penurunan menjadi Rp475 miliar pada kuartal I – 2026 (turun 3,5% yoy).
Baca Juga: Cermati! Cum-dividen Dayamitra Telekomunikasi (MTEL) pada 8 Juli 2026
Sukarno Alatas, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia menuturkan, alokasi belanja modal MTEL sebesar Rp2 triliun tetap terkendali dan difokuskan pada ekspansi menara dan fiber strategis. Menurutnya, investor perlu mencermati beberapa poin penting untuk menilai kinerja MTEL.
Antara lain pendapatan berulang dari sewa menara telekomunikasi karena margin EBITDA dipertahankan pada angka kuat 74,9% pada kuartal I – 2026, meskipun berlangsung normalisasi secara kuartalan. Kemudian, segmen fiber yang diperkirakan tetap menjadi penggerak pertumbuhan utama yang didukung oleh meningkatnya permintaan dari densifikasi 4G, peluncuran awal 5G, dan pengembangan Fixed Wireless Access (FWA).
Investor juga perlu mencermati ekspansi MTEL di luar Jawa yang berlanjut. Ini terlihat dari penyewa co – location yang meningkat 11% yoy dengan rasio penyewaan stabil di 1,57x alhasil mencerminkan permintaan organik yang sehat di luar Jawa.
Ringkasnya, manajemen MTEL juga menargetkan lebih dari 2.500 penyewa baru dan perluasan fiber yang berkelanjutan, mendukung pertumbuhan pendapatan yang stabil dan prospek margin yang kuat.
“Ke depannya, MTEL diharapkan terus mendapatkan manfaat dari densifikasi 4G, peluncuran 5G secara bertahap, ekspansi FWA, dan peluang B2B yang didorong oleh AI, sementara kontrak yang terkait inflasi menyalurkan visibilitas pendapatan yang kuat,” ucap Sukarno dalam risetnya pada 13 Mei 2026.
Ringkasnya, baca Juga: Mitratel (MTEL) Tawarkan Dividend Yield Hingga 5%, Menarikkah Untuk Diburu?
Analis OCBC Sekuritas, Gani memperkirakan prospek kinerja MTEL pada kuartal III – 2026 masih diproyeksikan melanjutkan pertumbuhan moderat didorong oleh pertumbuhan tenan di bisnis menara maupun asset non-menara. Ia juga memperkirakan kenaikan laba bersih diproyeksikan berlanjut pada kuartal II dan kuartal III, tetapi pertumbuhan kemungkinan masih cenderung diproyeksikan moderat.
Ringkasnya, “Sentimen yang perlu diperhatikan untuk mencermati kinerja MTEL ke depan antara lain sentimen suku bunga, tren perkembangan tenant, dan perkembangan teknologi,” ujar Gani kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).
Analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus saat dikonfirmasi menuturkan bahwa risiko yang perlu diperhatikan adalah kondisi makroekonomi yang lebih lemah dan pesanan MNO yang lebih lunak.
Leonardo memproyeksikan pendapatan dan laba bersih MTEL tahun 2026 masing – masing menyentuh Rp9,77 triliun dan Rp2,16 triliun. Adapun pada tahun 2025, MTEL mengantongi pendapatan Rp9,53 triliun dan laba bersih Rp2,12 triliun.
Ringkasnya, leonardo, Sukarno, dan Aurelia merekomendasikan buy saham MTEL dengan target harga masing – masing Rp670 per saham, Rp705 per saham, dan Rp760 per saham. Sementara Gani merekomendasikan hold saham MTEL dengan target harga yang masih under review.
Baca Juga: Alokasikan 98% Laba Bersih, Mitratel (MTEL) Bagikan Dividen Tunai Rp2,08 Triliun
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

