PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) bersiap menjalankan transformasi bisnis secara menyeluruh dengan memasuki industri komponen mekanikal dan otomotif. Langkah strategis ini ditempuh melalui pembelian aset tetap bernilai Rp78,5 miliar serta pelaksanaan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau penempatan terbatas.
Perseroan diproyeksikan membeli aset masih milik PT Jaya Indah Casting (JIC) dengan nilai Rp78,5 miliar. Nilai transaksi tersebut berada di bawah hasil penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Andesta yang menaksir nilai wajar aset senilai Rp83,86 miliar.
Aset yang akan diakuisisi mencakup tanah seluas 15.400 meter persegi, bangunan pabrik, serta mesin dan peralatan produksi besi tuang bukukan (ferro casting).
Direktur Utama GPSO, Dionysius Tjokro, menuturkan setelah transaksi selesai, aset tersebut akan disewakan kembali kepada JIC dengan nilai sewa Rp9,3 miliar per tahun.
“Penyewaan aset kembali kepada JIC berpotensi menciptakan pendapatan bagi perseroan. GPSO berpotensi langsung membukukan penjualan dengan kerja sama yang dilakukan,” ujar Dionysius dalam keterbukaan informasi di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Transformasi ini dilakukan karena kinerja bisnis jasa geospasial yang selama ini dijalankan perseroan belum menunjukkan hasil optimal. Pada 2025, GPSO membukukan rugi usaha sebesar Rp4,64 miliar, setelah sebelum itu membukukan rugi usaha Rp5,17 miliar pada 2024.
Untuk mendukung kebutuhan pendanaan, GPSO akan meluncurkan 66,67 juta saham baru melalui skema penempatan terbatas. PT PIMSF Pulogadung, entitas yang berada dalam kelompok usaha Tjokro Group, akan bertindak sebagai pembeli siaga.
Dionysius menekankan aksi korporasi ini tidak akan mengubah struktur pengendalian perseroan. Kini, PIMSF Pulogadung menguasai 36,95% saham GPSO.
Ringkasnya, “Perseroan memilih menggunakan skema PMTHMETD pada tahap awal transformasi,” katanya.
Berdasarkan laporan keuangan proforma per 31 Desember 2025, total aset GPSO diproyeksikan meningkat signifikan menjadi Rp137,59 miliar dari sebelum itu Rp48,89 miliar.
Ringkasnya, sebagai bagian dari perubahan arah bisnis, perseroan juga menambahkan sejumlah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) baru, antara lain industri komponen sepeda motor roda dua dan tiga, real estat, serta perdagangan besar mesin kantor dan industri.
GPSO akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 2 Juni 2026. Sementara itu, pelaksanaan penempatan terbatas dan pencatatan saham baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditargetkan berlangsung pada 12 Juni 2026.
Melalui transformasi ini, GPSO berharap berpotensi memperkuat sinergi di dalam Tjokro Group dan memperluas pasar ke segmen Original Equipment Manufacturer (OEM) untuk industri otomotif, alat berat, pertambangan, dan perkebunan. (*/da)
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

