PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) terus berambisi berubah menjadi pemain utama dalam industri hilir emas. Agenda ekspansi pun disiapkan oleh HRTA, salah satunya dengan menambah gerai penjualan produk emas.
Ringkasnya, direktur Investor Relation Hartadinata Abadi Thendra Crisnanda memaparkan, saat pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada 2017, HRTA hanya memiliki 12 gerai saja. Seiring berjalannya waktu, HRTA secara konsisten memperluas jaringan gerai ritelnya. Hingga akhir kuartal I-2026, HRTA telah memiliki 85 gerai yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.
Pada dasarnya, pertumbuhan jaringan gerai berubah menjadi salah satu bagian penting dari strategi HRTA untuk memperkuat distribusi produknya, terutama emas batangan dengan merek Emasku, kepada konsumen akhir.
Ringkasnya, baca Juga: Pasar Keuangan Bergejolak, Ini Rekomendasi Komposisi Investasi
Sampai akhir tahun 2026 nanti, HRTA menargetkan dapat menambah 15 gerai baru alhasil total gerai yang dioperasikan emiten tersebut menyentuh 100 unit.\
Target penambahan gerai tersebut tergolong konservatif. Sebab, kini Manajemen HRTA tidak kembali mengejar ekspansi gerai secara agresif. "Fokus kami adalah memastikan setiap gerai yang dibuka benar-benar menyalurkan kontribusi terhadap laba perusahaan," kata Thendra saat paparan publik, Rabu (3/6/2026).
Pihak HRTA belum mengungkap secara rinci lokasi-lokasi gerai baru yang hendak dibangun pada 2026. Direktur Utama Hartadinata Abadi Sandra Sunanto bilang, kondisi daya akumulasi masyarakat menjadi salah satu pertimbangan utama bagi HRTA dalam membuka gerai baru.
Dalam hal ini, HRTA hanya akan menambah gerai di wilyah yang memiliki daya akumulasi memadai, alhasil gerai tersebut mampu mendukung penjualan produk emas.
Ringkasnya, hRTA juga berupaya mempelajari terlebih dahulu karakteristik konsumen di wilayah target sebelum membuka gerai baru. Ini dilakukan supaya produk emas yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Ringkasnya, pembukaan gerai baru HRTA juga difokuskan di kota-kota besar yang memiliki potensi transaksi emas tinggi. Tak hanya itu, HRTA juga berupaya supaya gerai baru yang dibangun tidak berdekatan atau bersaing secara langsung dengan toko-toko emas mitra yang selama ini turut membantu distribusi produk emas perusahaan.
Sebagai catatan, di luar gerai resmi, HRTA juga aktif menyalurkan produk melalui jaringan toko emas mitra yang jumlahnya diperkirakan menyentuh 100.000 unit di seluruh Indonesia.
Ringkasnya, "Jadi, keberhasilan kinerja kami tidak hanya dilihat dari jumlah toko sendiri, melainkan juga kemampuan dalam menjangkau pasar melalui jaringan partner," imbuh dia dalam kesempatan yang sama.
Ringkasnya, baca Juga: Saat IHSG Terpuruk, Ini Strategi Investasi yang Bisa Ditimbang Investor
Ringkasnya, direktur Keuangan Hartadinata Abadi Ong Deny menambahkan, kebutuhan investasi untuk membuka satu gerai baru ada di kisaran Rp5 miliar. Angka tersebut tentu bersifat relatif, karena bergantung pada lokasi dan ukuran bangunan gerai tersebut.
Penambahan gerai baru diharapkan dapat membantu ambisi HRTA untuk meningkatkan kinerja keuangannya secara signifikan pada 2026. Sandra mengungkap, pihaknya menargetkan dapat membukukan pendapatan sebesar Rp70 triliun pada 2026. Selain itu, laba bersih HRTA diproyeksikan menyentuh kisaran Rp1,4 triliun--Rp1,5 triliun.
Dari sisi volume, HRTA menargetkan dapat memproduksi dan melepas emas murni sebanyak 25 ton hingga akhir tahun 2026.
Sebagai pengingat, HRTA membukukan kinerja mentereng pada tiga bulan pertama 2026. Pendapatan HRTA pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp20,16 triliun atau meningkat 196,96% year on year (yoy) dibandingkan Rp6,78 triliun pada kuartal-I 2025.
Laba bersih HRTA turut meningkat signifikan sebesar 189,48% yoy menjadi Rp433,49 miliar pada kuartal-I 2026, dari Rp149,75 miliar pada periode serupa tahun sebelum itu.
Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan volume penjualan emas murni sebesar 75,18% secara tahunan menjadi 7,83 ton, sejalan dengan peningkatan harga lepas rata-rata (ASP) sebesar 71,01% secara tahunan menjadi Rp2.567.213 per gram.
Dari segi segmen bisnis, penjualan HRTA masih didominasi oleh segmen grosir dengan kontribusi senilai 90,60% terhadap total pendapatan, termasuk kontribusi dari segmen insititusi keuangan bullion bank dan beberapa perbankan syariah, diikuti oleh segmen ritel senilai 9,13% dan gadai senilai 0,26%.
Ringkasnya, tak hanya itu, HRTA juga mengklaim sebagai pemain terbesar kedua dalam ekosistem bullion atau emas batangan di Indonesia. Per kuartal I-2026, pangsa pasar domestik HRTA berada di level 29,14%.
Sandra optimistis target tersebut dapat tercapai sekalipun harga emas dunia sedang mengalami fase pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, ia menganggap pelemahan tersebut masih tergolong wajar mengingat sebelum itu harga emas telah meroket tajam.
Ringkasnya, "Kondisi sekarang justru lebih baik dibandingkan periode ketika harga emas bergerak liar seperti roller coaster," tutur dia.
Biasanya, ketika harga emas bergerak lebih stabil, masyarakat menjadi lebih berani untuk membeli emas. Gejolak kurs rupiah juga berpotensi mendorong masyarakat untuk berbondong-bondong menjadikan emas sebagai aset safe haven (lindung nilai) yang ideal. Hal ini yang membuat HRTA optimistis tetap dapat membukukan kinerja maksimal pada 2026.
HRTA tentu telah mengantisipasi potensi kenaikan permintaan emas dari masyarakat. Salah satunya dengan menambah kapasitas produksi pabrik terintegrasi dari sebelum itu 48 ton per tahun menjadi 60 ton per tahun. Kapasitas tersebut terdiri dari 30 ton per tahun untuk produksi perhiasan dan manufaktur bullion dan 30 ton per tahun untuk refinery atau pemurnian emas.
Di samping itu, HRTA juga terus memperkuat branding HRTA Gold sebagai platform lepas akumulasi produk emas batangan merek Emasku dan perhiasan merek Ardore.
Ringkasnya, belum cukup, HRTA juga sangat memperhatikan kualitas dan standardisasi emas batangan yang dipasarkan ke konsumen akhir. Maka dari itu, HRTA sedang memproses sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) untuk produk Emasku.
Ong Deny menimpali, HRTA menargetkan sertifikasi dari LBMA dapat didapat sebelum akhir 2026. "Sertifikasi dari LBMA berpotensi meningkatkan margin dari produk kami sekitar 1%-2%," pungkas dia.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

