PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT) menargetkan penjualan senilai Rp88,18 miliar dan laba bersih Rp18,3 miliar pada 2026. Perseroan diproyeksikan memfokuskan upaya pada peningkatan penjualan serta optimalisasi proyek yang sedang berjalan, terutama proyek Sawangan Permai.
Direktur Utama PT Minahasa Membangun Hebat Tbk, Go Ronny Nugroho, menyatakan target tersebut dalam paparan publik secara daring di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
“Target penjualan pada tahun 2026 sebesar Rp88,18 miliar dengan target laba bersih Rp18,3 miliar. Realisasi penjualan pada tahun 2025 berkisar di 33 persen dari target penjualan tahun 2025. Memang pencapaian perseroan pada tahun 2025 masih belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Kondisi pasar beberapa waktu terakhir juga cukup menantang alhasil berdampak pada penjualan,” ujar Ronny.
Menurut Ronny, perseroan masih melihat peluang di pasar hunian, khususnya pada proyek Sawangan Permai. Karena itu, HBAT akan lebih fokus meningkatkan penjualan dan mengoptimalkan proyek yang sedang berjalan guna memperbaiki kinerja perusahaan pada tahun berjalan.
Sepanjang 2025, HBAT membukukan penjualan senilai Rp24,53 miliar. Nilai tersebut setara 33,6% dari target penjualan yang ditetapkan pada awal tahun senilai Rp73,02 miliar.
Direktur Keuangan HBAT, Andrie Rianto, menuturkan dari capaian penjualan tersebut perseroan membukukan laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp2,7 miliar.
“Sepanjang 2025, Perseroan membukukan penjualan senilai Rp24,53 miliar, atau tercapai 33,6% dari target penjualan yang ditetapkan pada awal tahun senilai Rp73,02 miliar. Dari penjualan tersebut, Perseroan membukukan laba komprehensif tahun berjalan senilai Rp2,7 miliar,” ungkap Andrie.
Dari sisi neraca, total aset HBAT pada 2025 tercatat sebesar Rp84,6 miliar, meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar Rp82,1 miliar. Liabilitas melemah ke Rp3,5 miliar dari Rp3,7 miliar pada tahun sebelum itu.
Sementara itu, ekuitas perseroan meningkat ke Rp81,2 miliar pada 2025, dibandingkan Rp78,3 miliar pada 2024.
Andrie menjelaskan penurunan penjualan dipengaruhi melemahnya daya akumulasi masyarakat, tingkat suku bunga kredit yang masih relatif tinggi, serta kecenderungan konsumen menunda keputusan pembelian di tengah dinamika ekonomi.
Selain itu, meningkatnya selektivitas konsumen terhadap produk properti dan ketatnya persaingan industri juga menyalurkan tekanan terhadap penjualan perseroan.
“Sementara penurunan pencapaian laba, salah satunya disebabkan karena terjadinya volatilitas harga bahan-bahan bangunan dan turunannya, yang berada di luar kendali Perseroan,” tegas Andrie.
Ringkasnya, di tengah kondisi tersebut, HBAT menerapkan pengelolaan biaya secara prudent sepanjang 2025, baik pada belanja operasional maupun belanja modal. Langkah tersebut mencakup penguatan tata kelola pengadaan serta pengawasan biaya secara ketat.
“Seluruh pengeluaran kami fokuskan pada kebutuhan yang bersifat strategis dan esensial, dengan pemantauan ketat terhadap biaya per unit, alhasil pada akhir tahun Perseroan masih mampu membukukan laba,” ujar Andrie.
Ringkasnya, terkait penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO), perseroan telah merealisasikan seluruh dana IPO hingga Desember 2025.
Dana tersebut digunakan senilai Rp11,02 miliar untuk pembelian tanah atau landbank, Rp10,82 miliar untuk pembangunan fasilitas dan sarana prasarana perumahan yang meliputi kolam renang, function hall atau clubhouse, serta kantor pemasaran. Adapun Rp1,96 miliar digunakan untuk modal kerja.
Ringkasnya, “Adapun mengenai penggunaan dana hasil IPO, Perseroan telah merealisasikan seluruh dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham per Desember 2025 dengan rincian Rp11,02 miliar untuk pembelian tanah atau landbank, Rp10,82 miliar untuk pembangunan fasilitas dan sarana prasarana perumahan, dan Rp1,96 miliar untuk modal kerja,” kata Andrie.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

