Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi bergerak terkoreksi terbatas pada perdagangan Senin (11/5/2026). Pergerakan indeks diperkirakan berada di rentang 6.850 hingga 7.350.
Ringkasnya, proyeksi tersebut disampaikan Retail Research & Investment Bahana Sekuritas, Dimas Wahyu Putra Pratama, CTA, dalam riset yang dirilis hari ini. Ia menilai pergerakan indeks masih dipengaruhi sentimen teknikal dan kondisi pasar global yang dinamis.
“Diperkirakan hari ini Senin (11/5), IHSG berpotensi terkoreksi terbatas dengan range 6.850-7.350,” ujar Dimas.
Ringkasnya, sejumlah sektor dinilai menarik untuk diperhatikan pelaku pasar. Sektor tersebut meliputi IDXTECH, IDXPROP, IDXFIN, IDXNCYC, IDXINFRA, IDXTRANS, IDXINDUS, dan IDXENER.
Pada perdagangan Jumat (8/5/2026), IHSG ditutup terjungkal 2,86% ke level 6.969. Penurunan ini dipicu pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BREN turun 11,83%, DSSA terkoreksi 11,94%, AMMN terkoreksi 9,27%, BRMS turun 10,18%, dan EMAS terjungkal 12,22%.
Meski indeks terkoreksi, investor asing masih membukukan aksi akumulasi bersih (net buy) bernilai Rp11,42 triliun.
Dari pasar global, bursa Wall Street terangkat ditopang saham teknologi chip dan kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, data Nonfarm Payroll Amerika Serikat yang meningkat 115 ribu pekerjaan memicu potensi Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Sementara itu, bursa Asia bergerak terkoreksi seiring meningkatnya eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Ketegangan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dunia dan mendorong kenaikan inflasi global. Harga minyak dunia juga terpantau terangkat akibat kondisi tersebut.
Dari dalam negeri, pemerintah berencana menyesuaikan tarif royalti mineral melalui revisi PP Nomor 19 Tahun 2025. Kebijakan ini menyasar komoditas tembaga, emas, perak, nikel, hingga timah. Langkah tersebut diestimasi berpotensi menekan profitabilitas emiten tambang.
Selain itu, tekanan arus keluar modal (capital outflow) diestimasi meningkat pada kuartal II 2026. Kondisi ini dipicu musim repatriasi dividen, pembayaran utang jatuh tempo pemerintah, serta tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Bahana Sekuritas juga menyoroti instrumen obligasi dan reksa dana. Seri obligasi seperti FR0109 hingga FR0107 dinilai masih menarik. Sementara itu, reksa dana pasar uang Capital Money Market membukukan imbal hasil 5,37%.
Ringkasnya, untuk perdagangan sepanjang pekan ini, Bahana Sekuritas merekomendasikan saham-saham berikut:
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau melepas saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

