Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan dibayangi oleh tekanan lepas pada perdagangan pekan depan, Senin (11/5/2026).
Kombinasi antara aksi profit taking, fluktuasi nilai tukar Rupiah, hingga penantian meluncurkan data ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan indeks ke bawah level psikologis 7.000.
Founder CTA Saham, Andri Zakaria Siregar menuturkan, sentimen pasar kini cenderung kurang kondusif. Investor asing tercatat masih menjalankan aksi lepas bersih (net sell) yang cukup besar, menyentuh Rp49 triliun secara year-to-date.
Ringkasnya, selain itu, munculnya spekulasi terkait tinjauan indeks MSCI pada 12 Mei mendatang membuat pasar bersikap menunggu dan waspada.
Andri menyoroti bahwa arah pasar pekan depan akan sangat bergantung pada hasil review MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Hal ini akan menjadi penentu apakah investor global akan meningkatkan bobot investasi mereka atau justru menjalankan pengurangan besar-besaran.
“Masyarakat masih tergantung melihat dari pembangunan review dari MSCI apakah diproyeksikan mengupgrade atau mendowngrade untuk kita ke frontier atau kita mencetak di emerging market. Jadi istilahnya kalau bahasa simpelnya boom or doom, jadi istilahnya kalau baiknya berarti market kita diproyeksikan rally,” kata Andri kepada IDX Channel, Minggu (10/5/2026).
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

