Ringkasnya, pT Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 secara hybrid di Jakarta, Senin (29/6/2026). Rapat dihadiri 90 pemegang saham atau mewakili 100% pemegang saham yang memiliki hak suara.
Ringkasnya, rUPST menyetujui tiga agenda. Pertama, persetujuan Laporan Tahunan termasuk Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris serta pengesahan Laporan Keuangan Perseroan Tahun Buku 2025.
Ringkasnya, kedua, penunjukan akuntan publik untuk Tahun Buku 2026. Ketiga, pengangkatan dan penetapan remunerasi anggota Direksi Perseroan masa bakti 2026-2030 serta pemberian uang jasa pengabdian bagi anggota direksi yang masa jabatannya berakhir.
Dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (29/6/2026), Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pasar modal Indonesia tetap membukukan pertumbuhan sepanjang 2025 meski menghadapi tekanan global.
Pada paruh pertama 2025, pasar modal menghadapi tekanan eksternal akibat meningkatnya tensi perang dagang sesudah kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian geopolitik global. Kondisi tersebut memicu volatilitas hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami pelemahan ke level 5.996 pada awal April 2025 dan Bursa memberlakukan trading halt.
Menghadapi kondisi itu, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) menjalankan koordinasi intensif. Sejumlah kebijakan stabilisasi pasar juga diterapkan, mulai dari penguatan komunikasi dengan pelaku pasar, penyesuaian kebijakan pembelian kembali saham saham tanpa persetujuan RUPS, penyesuaian batas Auto-Rejection Bawah (ARB), hingga penyempurnaan ketentuan trading halt.
Ringkasnya, memasuki paruh kedua 2025, kondisi pasar berangsur membaik seiring pulihnya sentimen global dan dukungan berbagai kebijakan domestik yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.
“IHSG membukukan 24 kali All-Time High sepanjang tahun dengan level tertinggi 8.711. Kapitalisasi pasar juga menyentuh rekor tertinggi sebesar Rp16.004 triliun pada 8 Desember 2025,” ujar Jeffrey.
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang 2025, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham menyentuh Rp18,1 triliun. Sementara itu, transaksi produk non-saham menyentuh Rp7,6 triliun.
Di pasar obligasi, melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), total volume transaksi menyentuh Rp1.375 triliun. Adapun nilai perdagangan karbon di Bursa Karbon (IDXCarbon) tercatat sebesar Rp36,37 miliar.
Pada sisi penghimpunan dana, BEI membukukan 26 perusahaan menjalankan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan total kapitalisasi pasar saat pencatatan menyentuh Rp155,2 triliun.
“Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO menyentuh sekitar Rp18,1 triliun, meningkat 26% dibandingkan tahun sebelum itu. Kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials, diikuti sektor financials dan infrastruktur,” kata Jeffrey.
Selain melalui IPO, penghimpunan dana melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) menyentuh Rp217,4 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan waran menyentuh Rp43,7 triliun.
Berdasarkan Jeffrey, capaian tersebut semakin memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan yang komprehensif.
Ringkasnya, bEI juga terus memperkuat ekosistem pasar modal melalui pengembangan produk, layanan, dan infrastruktur. Upaya itu disertai perluasan inklusi keuangan melalui edukasi dan digitalisasi.
Hingga akhir 2025, BEI telah menyelenggarakan lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi. Jumlah Galeri Investasi meningkat menjadi 1.015 lokasi di seluruh Indonesia, sementara pengguna IDX Mobile naik ke 463 ribu.
“Berbagai upaya tersebut mendorong pertumbuhan jumlah investor pasar modal menjadi 20,3 juta atau meningkat hampir 37% dibandingkan tahun sebelum itu,” ujar Jeffrey.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

