Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 19 persen sejak awal tahun 2026 (year-to-date/ytd). Faktor eksternal seperti ketidakpastian global dinilai turut menekan kinerja indeks domestik.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi mengungkap, hingga akhir April 2026, IHSG bertengger di level 6.956,80, terkoreksi 1,3 persen secara bulanan (month-to-date/mtd) dan 19,55 persen secara tahun berjalan.berjalan (ytd).
Ringkasnya, "Pasar saham domestik pada April 2026 masih terlihat bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan secara global," katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK yang dilangsungkan secara daring, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan Hasan, fundamental ketahanan dan likuiditas pasar modal nasional masih berada dalam kondisi yang terjaga. Parameternya berpotensi ditilik dari rendahnya angka rata-rata spread bid-ask, yang tercatat senilai 1,33 kali sepanjang bulan April 2026.
Berbeda dengan pasar saham, performa pasar obligasi dalam negeri justru menunjukkan tren penguatan. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) terpantau naik 0,74 persen secara bulanan, alhasil menyentuh level 436,38 pada penutupan April 2026.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

