PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan kenaikan laba bersih di tengah penurunan tipis pendapatan usaha sepanjang Januari-Maret 2026.
ADHI membukukan pendapatan usaha senilai Rp1,66 triliun pada kuartal I 2026. Ini mengalami pelemahan tipis dari Rp1,68 triliun di kuartal I-2025.
Corporate Secretary ADHI, Rozi Sparta menuturkan, pendapatan perseroan berasal dari kontribusi Joint Operation (JO) sebesar Rp1,2 triliun dan Non Joint Operation (NJO) sebesar Rp1,7 triliun.
Alhasil total produksi sampai dengan kuartal I 2026 adalah bernilai Rp2,9 triliun.
Baca Juga: Diisukan Akumulasi Saham Aplikator Ojol, Danantara Masih Evaluasi Peluang Investasi
Ringkasnya, “Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari proyek infrastruktur seperti proyek Jalan Tol Jogja Bawen Paket 1, proyek Jalan Tol Solo Jogja 1.1, dan proyek EPCC Jetty Propylene,” ujarnya dalam keterangan resmi tanggal 30 April 2026.
Perolehan kontrak baru ADHI pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp4,72 triliun. Capaian tersebut meningkat 131,5% secara tahunan alias year on year (YoY) dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu.
“Ini mencerminkan kinerja perseroan yang masih solid serta konsisten menjaga tren pertumbuhan positif di awal tahun,” katanya.
Dari sisi profitabilitas, ADHI membukukan laba kotor sebesar Rp553,02 miliar. EBITDA tercatat meningkat 46% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu menyentuh Rp464 Miliar.
Pada tingkat bottom line, ADHI membukukan laba bersih sebesar Rp154,12 miliar, meningkat dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu bernilai Rp317 juta.
Ringkasnya, “Hal ini menunjukkan pemulihan kinerja ADHI yang sudah kembali positif di kuartal I 2026 dari hasil fundamental business review yang telah dilakukan pada laporan audited tahun buku 2025,” ungkapnya.
Sampai dengan Maret 2026, total aset perseroan tercatat sebesar Rp28,1 triliun, sementara total liabilitas tercatat sebesar Rp24,7 triliun dan ekuitas sebesar Rp3,5 triliun.
Rasio Debt to Equity Ratio (DER) berbasis Interest Bearing Debt tercatat senilai 2,4 kali, rasio EBITDA to Interest (TIE) tercatat senilai 2,55 kali, dan Current Ratio tercatat senilai 1,01 kali.
Berdasarkan Rozi, semua rasio tersebut telah memenuhi covenant Obligasi ADHI yang menunjukkan komitmen ADHI dalam menjaga kepercayaan kepada para Pemegang Obligasi dan Investor lainnya.
Di tengah kondisi industri konstruksi yang masih menantang, ADHI masih berfokus pada penguatan fundamental bisnis melalui penerapan operational excellence, pengelolaan cashflow yang disiplin, serta selektivitas dalam perolehan proyek baru.
Ringkasnya, “Perseroan juga terus mendorong proyek-proyek dengan profil pembayaran dan margin yang sehat sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang,” tuturnya.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

