PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencetak kinerja gemilang pada tahun buku 2025. Emiten induk Grup Bakrie ini meraup laba bersih Rp502,74 miliar. Angka tersebut meroket 49,6% dibandingkan perolehan tahun 2024 sebesar Rp336,05 miliar.
Laporan keuangan BNBR per 31 Desember 2025 menunjukkan laba per saham dasar ikut naik. Nilainya menjadi Rp2,85 per lembar dari sebelum itu Rp2,04 pada akhir 2024.
Kenaikan laba ini berlangsung di tengah penurunan tipis pendapatan neto. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp3,74 triliun pada 2025. Jumlah ini terkoreksi 3,3% dari Rp3,87 triliun pada tahun sebelum itu.
Sektor infrastruktur dan manufaktur berubah menjadi kontributor utama pendapatan dengan nilai Rp3,11 triliun. Disusul oleh jasa pabrikasi dan konstruksi senilai Rp387,37 miliar. Sementara itu, sektor perdagangan, jasa, dan investasi menyumbang Rp245,19 miliar.
Beban pokok pendapatan BNBR tercatat sebesar Rp2,99 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dari beban tahun 2024 bernilai Rp3,00 triliun. Alhasil, laba bruto Perseroan menyentuh Rp744,38 miliar pada akhir 2025.
Faktor utama pendorong reli laba bersih adalah penghasilan lain-lain neto yang meroket tajam. BNBR membukukan penghasilan lain-lain sebesar Rp401,97 miliar. Pada 2024, nilainya hanya Rp106,36 miliar.
Reli ini ditopang oleh keuntungan pengukuran kembali kepentingan ekuitas bernilai Rp422,37 miliar. Selain itu, terdapat keuntungan dari pembelian diskon (bargain purchase) sebesar Rp320,13 miliar. Perolehan ini berkaitan dengan akuisisi PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).
Ringkasnya, manajemen memastikan seluruh data laporan disajikan secara transparan. Direktur Utama BNBR, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan tanggung jawabnya atas laporan tersebut.
Ringkasnya, “Semua informasi dalam laporan keuangan konsolidasian Perusahaan dan Entitas Anak telah dimuat secara lengkap dan benar,” tegas Anindya dalam surat pernyataan direksi dikutip Selasa (30/6/2026).
Dari sisi pengeluaran, beban usaha Perseroan meningkat ke Rp627,52 miliar dari Rp586,60 miliar. Beban bunga dan keuangan juga meningkat signifikan menjadi Rp211,55 miliar dari sebelum itu Rp95,49 miliar.
Kekuatan neraca BNBR menunjukkan pertumbuhan aset sangat pesat. Total aset Perseroan meroket 245% berubah menjadi Rp23,57 triliun per Desember 2025. Pada akhir 2024, total aset senilai Rp6,83 triliun.
Reli aset dipicu oleh kepemilikan hak pengusahaan jalan tol bernilai Rp14,99 triliun. Aset lancar Perseroan juga meningkat ke Rp4,42 triliun dari Rp3,63 triliun.
Sejalan dengan aset, total liabilitas Perseroan melonjak menjadi Rp18,90 triliun dari Rp2,92 triliun. Hal ini disebabkan oleh penambahan pinjaman jangka panjang untuk proyek jalan tol.
Total ekuitas BNBR juga mengalami penguatan. Posisi ekuitas tercatat sebesar Rp4,67 triliun pada akhir 2025. Nilai ini meningkat dari posisi Desember 2024 sebesar Rp3,91 triliun.
Anindya bersama Direktur Keuangan BNBR, Hendrajanto Marta Sakti, menandatangani laporan ini pada 26 Juni 2026. Perseroan kini tengah menyiapkan rencana penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu V (PMHMETD V).
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

