PT Jasa Marga Tbk (JSMR) membukukan penurunan laba bersih pada kuartal I-2026. Penyesuaian tarif jalan tol diproyeksi menjadi salah satu katalis pendorong kinerja JSMR ke depan.
JSMR membukukan pendapatan Rp5,1 triliun pada kuartal I-2026 atau meningkat 10,4% secara year on year (yoy). Sementara itu laba bersih JSMR terkoreksi 16,5% yoy menjadi Rp774,66 miliar.
Eka Rahmawati, Analis Binaartha Sekuritas membukukan, hingga tahun fiskal 2025, JSMR telah menerapkan penyesuaian tarif di enam ruas jalan tol, dengan tambahan tiga penyesuaian yang diselesaikan pada kuartal I-2026. Adapun, untuk tahun 2026, perusahaan menargetkan sekitar 20 penyesuaian tarif, dengan 12 di antaranya diperkirakan berlangsung pada semester I-2026 dan lima kembali pada semester II-2026.
Baca Juga: Budamedik Menyiapkan Capex Rp217 Miliar Optimalisasi Aset, Tinjau Rekomendasi BMHS
“Yang perlu diperhatikan, beberapa penyesuaian tarif ditunda dan direalisasikan pada awal tahun 2026, yang dapat menyalurkan dukungan pendapatan tambahan ke depannya,” ujar Eka dalam risetnya pada 23 April 2026.
Ringkasnya, manajemen juga mengharapkan peningkatan konektivitas jaringan dari ruas jalan tol yang baru selesai dibangun untuk meningkatkan arus lalu lintas dan mendukung kinerja keuangan yang lebih kuat dalam jangka menengah.
Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama menuturkan bahwa kini terdapat 76 ruas jalan tol yang dioperasikan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) di Indonesia. Sebanyak 8 jalan tol secara langsung dimiliki oleh PT Jasa Marga Tbk. Sementara 18 jalan tol lainnya dimiliki JSMR secara tidak langsung melalui anak perusahaan regionalnya.
Dengan demikian, total kepemilikan JSMR menyentuh 26 ruas jalan tol atau setara dengan 34,2% dari total ruas tol di Indonesia. Hal ini juga tercermin dari kontribusi JSMR sebesar 35,3% (1.086,8 km) dari total panjang jalan tol di Indonesia yang menyentuh 3.078,93 km.
“Kami menilai rencana kenaikan tarif pada sekitar 20 ruas jalan tol justru berpotensi berubah menjadi faktor tambahan yang menghambat volume lalu lintas, alih-alih mengompensasi potensi penurunan mobilitas,” kata Ezaridho dalam risetnya pada 21 April 2026.
Selain itu, Ezaridho menilai industri jalan tol berpotensi menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mana dapat menurunkan mobilitas masyarakat pada tahun berjalan. Kombinasi mobilitas yang lebih rendah serta rencana kenaikan tarif tol berpotensi menekan pendapatan di seluruh industri.
Tekanan ini juga diperburuk oleh pelemahan kondisi sosial-ekonomi yang telah berlangsung sejak tahun sebelumnya.
Ringkasnya, baca Juga: Ekonom CORE: Rupiah Bergerak di Kisaran Rp17.250–Rp17.500 hingga Akhir Mei
Ringkasnya, “Adanya tekanan yang kurang menguntungkan dari kenaikan kenaikan harga BBM non-subsidi yang berpotensi menekan aktivitas transportasi,” ucap Ezaridho.
Ezaridho juga berpandangan industri aspal akan menghadapi tekanan dari sisi pasokan akibat kenaikan harga minyak dan gas. Hal ini seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang dipicu konflik AS–Iran–Israel. Mengingat bitumen adalah produk turunan dari minyak mentah, kenaikan harga bahan baku berpotensi menahan minat pembelian.
Dengan semakin ketatnya dana pemerintah pusat dan dana daerah yang juga semakin terbatas, perbaikan dan pembangunan jalan akan memperoleh prioritas yang lebih rendah dibandingkan dengan pelaksanaan program-program pemerintah kini seperti Makanan Bergizi Gratis, Perumahan Bersubsidi, dan Subsidi Energi.
“Kami menilai kenaikan harga bitumen diproyeksikan menciptakan inefisiensi biaya dalam pembangunan jalan tol, serta berpotensi memperpanjang periode arus kas negatif pada proyek jalan tol yang baru dibangun maupun yang masih dalam tahap perencanaan,” jelas Ezaridho.
Baca Juga: Kinerja AMRT Kuartal I-2026 Moncer, Laba Bersih Menembus Rp1,07 Triliun
Analis Maybank Sekuritas, Etta Rusdiana Putra melihat JSMR diproyeksikan terus fokus pada 5 proyek yang ada. Antara lain Tol Probolinggo–Banyuwangi, Yogyakarta–Bawen, Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo, Jakarta–Cikampek II Selatan, serta akses Patimban.
“Kami berpikir akuisisi jalan tol kurang mungkin berlangsung pada 2026, karena JSMR akan fokus pada proyek yang sudah ada,” ujar Etta kepada Kontan, Senin (4/5/2026).
Ringkasnya, ke depan, Etta memproyeksikan pendapatan JSMR didukung perbaikan trafik dan potensi efisiensi dari penerapan kebijakan ODOL (over dimension and overload) pada 2027. Meski begitu, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan untuk mencermati kinerja JSMR.
Di antaranya meliputi suku bunga yang lebih tinggi, pertumbuhan lalu lintas yang lebih lambat akibat perlambatan ekonomi, dan penyesuaian tarif yang lebih rendah dari perkiraan. Serta percepatan proyek jalan tol dan ekspansi/akuisisi proyek yang memiliki jangka waktu jatuh tempo lebih panjang, yang berpotensi berubah menjadi beban bagi profitabilitas dan neraca keuangannya.
Ringkasnya, ezaridho memproyeksikan pendapatan dan laba bersih JSMR tahun 2026 masing-masing Rp29,63 triliun dan Rp4,04 triliun. Adapun pada tahun 2025, JSMR mengantongi pendapatan Rp29,89 triliun dan laba bersih Rp3,66 triliun.
Baca Juga: IHSG Masih Berisiko Terkoreksi pada Selasa (5/5), Ini Rekomendasi Saham dari Analis
Ringkasnya, eka dan Etta merekomendasikan buy saham JSMR dengan target harga masing-masing Rp5.000 per saham dan Rp4.500 per saham. Sementara Ezaridho merekomendasikan hold saham JSMR dengan target harga Rp3.450 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

