Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) membukukan pertumbuhan bisnis yang solid sepanjang semester I-2026. Salah satu pencapaian paling menonjol adalah keberhasilan perseroan menghimpun tambahan dana masyarakat lebih dari Rp200 triliun dalam setahun, yang kemudian dikonversi berubah menjadi ekspansi kredit hingga mendorong pertumbuhan laba.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, dana pihak ketiga (DPK) BNI menyentuh Rp1.100,19 triliun, meningkat 22,3% secara tahunan (yoy) dari posisi Rp899,86 triliun pada Juni 2025. Dengan demikian, BNI berhasil menghimpun tambahan dana masyarakat sekitar Rp200,32 triliun dalam waktu satu tahun.
Pertumbuhan DPK tersebut ditopang oleh seluruh komponen pendanaan. Saldo giro naik ke Rp428,64 triliun pada akhir Juni 2026 dari Rp381,64 triliun pada periode serupa tahun sebelumnya.
Tabungan juga meningkat menjadi Rp291,33 triliun dari Rp265,91 triliun. Sementara itu, deposito membukukan kenaikan paling tinggi hingga 50,7% secara tahunan, menjadi Rp380,22 triliun dari Rp252,31 triliun.
Secara keseluruhan, dana murah atau current account saving account (CASA) BNI juga terus meningkat secara nominal, dari Rp647,55 triliun menjadi Rp719,97 triliun atau meningkat sekitar 11,2% secara tahunan. Likuiditas yang semakin kuat tersebut dimanfaatkan perseroan untuk mempercepat penyaluran kredit.
Total kredit BNI hingga akhir Juni 2026 menyentuh Rp968,54 triliun, meroket 24,4% yoy dibandingkan posisi Rp778,68 triliun pada periode serupa tahun sebelum itu. Pertumbuhan kredit BNI terutama ditopang oleh pembiayaan produktif.
Kredit investasi menjadi segmen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 34,6% yoy, disusul kredit modal kerja yang meningkat 29,8% yoy. Sementara itu, kredit konsumer masih membukukan pertumbuhan positif sebesar 9,1% yoy.
Ekspansi bisnis tersebut turut tercermin pada peningkatan pendapatan inti perseroan. Pendapatan bunga mengalami kenaikan 14,9% yoy berubah menjadi Rp38,63 triliun, sementara pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 14,2% yoy berubah menjadi Rp22,29 triliun dari Rp19,52 triliun pada semester I-2025.
Selain itu, pendapatan provisi dan komisi juga meningkat 13,5% yoy menjadi Rp5,50 triliun. Kenaikan pendapatan tersebut pada akhirnya menopang laba bersih BNI.
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp10,81 triliun pada semester I-2026, meningkat sekitar 6,3% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya sebesar Rp10,17 triliun. Sementara laba operasional naik sekitar 6% menjadi Rp13,12 triliun.
Selain membukukan pertumbuhan laba, skala bisnis BNI juga semakin besar. Total aset perseroan naik ke Rp1.461 triliun, meningkat sekitar 21,6% yoy dibandingkan posisi Juni 2025 sebesar Rp1.201,65 triliun.
Secara keseluruhan, laporan keuangan semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan BNI tidak hanya berasal dari sisi penyaluran kredit, tetapi juga didukung oleh kemampuan menghimpun dana masyarakat dalam jumlah besar. DPK yang meningkat lebih dari Rp200 triliun menyalurkan ruang bagi perseroan untuk mempercepat ekspansi kredit, alhasil mendorong kenaikan pendapatan bunga bersih dan menjaga pertumbuhan laba di tengah meningkatnya biaya dana.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

