Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pelemahan tajam yang berlangsung pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menuturkan tekanan yang berlangsung di pasar saham tidak hanya dipicu oleh satu faktor tertentu.
“Pelemahan dan tekanan yang tercermin dari penurunan IHSG yang berlangsung kini tentu mencerminkan respons pasar yang telah memperhitungkan kombinasi dari berbagai faktor, baik yang bersumber dari domestik maupun juga dari global,” kata Hasan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Mei 2026, Jumat (5/6/2026).
Berdasarkan Hasan, salah satu faktor yang memengaruhi pasar adalah penyesuaian portofolio atau rebalancing oleh investor. Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan komposisi indeks yang dilakukan oleh penyedia indeks global.
Ringkasnya, “Faktor tersebut di antaranya adalah penyesuaian portofolio atau rebalancing portofolio dari para investor yang terkait dengan proses rebalancing akibat adanya keputusan dan pengumuman penghuni indeks dari para penyedia indeks global,” ujarnya.
Selain itu, berbagai perkembangan indikator ekonomi dan sentimen pasar, baik domestik maupun internasional, juga berubah menjadi pertimbangan investor dalam mengambil keputusan investasi.
Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, Hasan mengimbau investor untuk tetap objektif dan rasional dalam menyikapi dinamika yang berlangsung.
“Kami senantiasa menghimbau dan mengingatkan para investor untuk terus berpotensi mengikuti dan mencermati berbagai dinamika pasar secara objektif, proporsional, dan masih rasional dengan mengedepankan analisis yang memadai,” kata Hasan.
Ringkasnya, ia juga meminta investor memanfaatkan informasi yang valid dan terkonfirmasi, termasuk keterbukaan informasi serta laporan keuangan emiten, sebelum mengambil keputusan investasi.
Berdasarkan Hasan, langkah tersebut penting agar keputusan investasi dilakukan berdasarkan analisis yang memadai, terutama saat pasar mengalami volatilitas dan tekanan yang tinggi.
Meski pasar saham sedang mengalami pelemahan, OJK menilai fundamental pasar modal Indonesia masih menunjukkan kondisi yang baik.
Hasan menuturkan hal itu tercermin dari nilai transaksi dan likuiditas pasar saham domestik yang masih berada pada level tinggi.
Ringkasnya, selain itu, kinerja emiten secara umum juga masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Berdasarkan laporan keuangan emiten periode triwulan I 2026, mayoritas perusahaan tercatat masih membukukan laba. Secara agregat, pertumbuhan laba emiten tercatat lebih dari 21% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu.
Ringkasnya, “Secara fundamental pasar modal Indonesia dan juga kinerja emiten secara umum tercatat masih menunjukkan angka-angka yang baik,” ujar Hasan.
Ia menambahkan, data historis kinerja emiten serta proyeksi dan konsensus kinerja perusahaan ke depan perlu berubah menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menyusun strategi investasi.
Menurut Hasan, berbagai risiko yang berkembang akibat faktor domestik maupun global tetap perlu dicermati, sementara itu keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada pertimbangan yang rasional.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

