Emiten yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) mengalami keterbatasan modal kerja dan utang bank menyentuh triliunan rupiah. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), kini PMMP memiliki kendala modal kerja alhasil hanya satu plant saja yang masih beroperasi.
Adapun modal kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan operasional sebesar US$ 15 juta. "Kegiatan operasional Perseroan kini masih di segmen udang dengan mengoperasikan 1 unit plant di Lokasi Situbondo. Selain itu sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh Perseroan," tulis manajemen, dikutip Rabu (8/7/2026).
Bahkan, PMMP terpaksa menjalankan pemutusan hubungan kerja dengan karyawan karena mengapami penurunan kapasitas produksi. Jumlah karyawan yang di PHK sejak tahun 2024 sampai dengan kini sebanyak 37 orang staf, 79 orang harian, serta 82 staf resign.
Meskipun demikian, manajemen menekankan bahwa tidak ada rencana penambahan atau pengurangan dan perubahan bidang usaha dalam waktu dekat ini. Selain itu, tidak ada pemutusan kontrak dengan supplier, dan tidak ada pemutusan kontrak dengan buyer atau pelanggan.
Di sisi lain, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk masih melanjutkan proses restrukturisasi pinjaman perbankan. Manajemen menyatakan restrukturisasi dengan PT Bank Permata Tbk telah memasuki tahap penandatanganan perjanjian kredit Nomor 137/BP/LOO/CRC-SBY/COMM/XII/2025 tertanggal 22 Desember 2025.
Ringkasnya, sementara restrukturisasi dengan PT Bank Resona Perdania, PT Bank SMBC Indonesia Tbk, PT Bank Maspion Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) masih menunggu persetujuan komite masing-masing kreditur. Perseroan juga melaporkan adanya penurunan saldo utang bank selama proses restrukturisasi.
Per 30 September 2024, total utang bank tercatat sebesar US$189,77 juta dan Rp159,89 miliar. Hingga 31 Mei 2026, saldo tersebut melemah ke US$160,13 juta dan Rp6,33 miliar.
Selama proses restrukturisasi berlangsung, perusahaan telah menjalankan pelunasan utang bank sebesar US$29,64 juta serta Rp153,56 miliar, di luar kewajiban bunga. Berdasarkan rincian kreditur, outstanding pinjaman terbesar masih berasal dari PT Bank Permata Tbk sebesar US$53,12 juta dan Rp5,49 miliar.
Selain itu, pinjaman kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) tercatat sebesar US$30,71 juta, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,80 juta, PT Bank Central Asia Tbk sebesar US$40,29 juta dan Rp834,87 juta, PT Bank Maspion Indonesia Tbk sebesar US$7,21 juta, serta PT Bank Resona Perdania sebesar US$5,99 juta. Di bidang pelaporan keuangan, perseroan menyatakan proses audit atas laporan keuangan tahun buku 2025 masih berlangsung.
Manajemen memperkirakan audit tersebut akan rampung pada Agustus 2026, dengan cover note dari auditor telah disampaikan sebagai bagian dari proses tersebut. Terkait sanksi administratif akibat keterlambatan penyampaian laporan keuangan, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk berencana menjalankan pembayaran denda secara bertahap.
Untuk memperbaiki struktur permodalan, perseroan tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain melalui penerbitan hmetd serta mengonversi sebagian utang usaha menjadi saham melalui mekanisme mandatory convertible note (MTN). Manajemen menekankan, meskipun menghadapi tantangan pendanaan dan restrukturisasi utang, hingga kini tidak terdapat informasi maupun fakta material lain yang dapat mempengaruhi harga efek perseroan ataupun kelangsungan usaha perusahaan.
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

