Ringkasnya, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang mengalami technical rebound dalam jangka pendek pada perdagangan Kamis (22/5/2026). Meski demikian, pergerakan indeks diprediksi masih rentan terkoreksi.
Fanny Suherman, CFP®, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyalurkan pandangannya mengenai kondisi pasar terkini. Menurutnya, pelaku pasar dapat memanfaatkan kenaikan sesaat untuk mengatur ulang portofolio.
“IHSG berpotensi short term teknikal rebound ke 6.400-6.450, tapi untuk sell on high karena masih berpotensi lanjut pelemahan,” ujar Fanny dalam risetnya hari ini.
Pada perdagangan sebelum itu, IHSG ditutup terkoreksi tajam sebesar 228,56 poin atau turun 3,46% ke level 6.370,68. Kondisi pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif dengan 612 saham terkoreksi. Sementara itu, hanya 112 saham yang terangkat dan 94 saham tidak bergerak.
Aksi melepas saham oleh investor asing turut menekan laju indeks. Pemodal mancanegara membukukan nilai lepas bersih (net sell) sekitar Rp131 miliar.
Sejumlah saham blue chip dan berkapitalisasi besar menjadi sasaran lepas utama. Saham-saham tersebut meliputi BBCA, BBRI, TPIA, AMMN, dan DSSA.
Untuk perdagangan hari ini, BNI Sekuritas menetapkan batas bawah (support) IHSG pada level 6.000-6.200. Sementara itu, titik hambat atau batas atas (resistance) diestimasi berada di posisi 6.400-6.450.
Ringkasnya, fanny merekomendasikan enam saham pilihan yang menarik untuk dicermati investor. “Trading idea hari ini: BBCA, UNTR, PADI, BREN, BDMN, dan WIFI,” imbuhnya.
Ringkasnya, berikut rincian rekomendasi trading lengkap dari BNI Sekuritas:
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau melepas saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

