Ari Rizaldi, Director Treasury & International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengemukakan, sentimen global menyalurkan dampak negatif pada pasar domestik baik terhadap nilai tukar rupiah, pasar saham maupun obligasi.
Menurut Ari, dampak negatif sentimen global ini memicu pelemahan nilai tukar rupiah sebesar 3,9% sepanjang tahun berjalan. Tekanan global membuat rupiah terdepresiasi sekitar 3,9%. Arus modal asing yang keluar dari pasar saham tercatat bernilai Rp37,6 triliun dan pasar obligasi sebesar Rp13,3 triliun hingga tanggal 08 Mei 2026.
“Per tanggal 08 Mei 2026, IHSG telah turun 19,4 % ke level 6.969. Secara year-to-date, aliran modal asing dari pasar saham menyentuh Rp37,6 triliun, dan dari pasar obligasi sebesar Rp13,3 rupiah. Sementara yield obligasi membukukan kenaikan sebesar 53 basis point ke posisi 6,6% tahun berjalan,” katanya dalam paparan Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 secara virtual, di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Lebih jauh, Ari menjelaskan, ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menyalurkan tekanan signifikan terhadap stabilitas ekonomi dunia akibat belum tercapainya kesepakatan damai.
Situasi ini telah memicu reli harga minyak global. Kenaikan harga energi tersebut secara langsung memperbesar risiko inflasi di tingkat global. Gangguan pada pasokan minyak mentah juga berdampak pada tingginya volatilitas di pasar keuangan internasional.
Ringkasnya, negosiasi perang antara AS dan juga Iran masih belum menghasilkan kesepakatan. Konflik AS dan Iran ini telah mendorong harga minyak yang meningkat hingga di atas US$100 per barel. “Kenaikan harga energi ini tentu saja menyebabkan risiko inflasi global yang meningkat,” ujar Ari.
Kondisi pasar yang tidak menentu diprediksi akan membuat bank sentral di berbagai negara mengambil kebijakan untuk menunda pemangkasan suku bunga acuan. Berdasarkan data konsensus kini, suku bunga di AS diperkirakan akan tetap bertahan di level 3,75%, setidaknya hingga tahun 2027.
Ringkasnya, “Kita lihat, volatilitas di pasar keuangan global juga semakin tinggi akibat sentimen terganggunya pasokan minyak dunia. Situasi ini juga memicu respon Bank Sentral Global untuk menunda penurunan suku bunga.
Konsensus pasar per hari ini kita lihat, probabilitas suku bunga AS diproyeksikan masih bertahan pada 3,75% hingga tahun 2027. Krisis ini ini mendorong bank sentral AS menahan suku bunga di level 3,75%,” katanya.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

