Ringkasnya, telkom Indonesia ($TLKM) telah merilis kinerja keuangan periode 2Q26/1H26 dan mengadakan earnings call pada Senin (3/8). Berikut beberapa catatan penting dari kami:
Telkom Indonesia membukukan laba bersih sebesar ~Rp6,3 T pada 2Q26 (+28% YoY, +45% QoQ), menandai laba bersih kuartalan tertinggi sejak 3Q23, alhasil laba bersih selama 1H26 menyentuh Rp10,6 T (+1% YoY).
Sementara itu, laba bersih ternormalisasi (normalized net profit) TLKM pada 2Q26 menyentuh Rp6,2 T (+16% YoY, +21% QoQ), alhasil laba bersih ternormalisasi selama 1H26 menyentuh Rp11,3 T (+6% YoY), melampaui ekspektasi karena setara 55% estimasi 2026F konsensus. (vs. rata–rata 3 tahun terakhir: 50% laba bersih tahunan). Laba ternormalisasi tersebut mengecualikan dampak percepatan depresiasi, pajak atas transfer aset, kerugian investasi yang belum direalisasikan, dan keuntungan one–off dari hasil divestasi bisnis healthcare (AdMedika dan Telkomedika) bernilai total ~Rp429 M setelah pajak.
Secara operasional, EBITDA selama 1H26 meningkat ke ~Rp37,4 T (+4% YoY), dengan margin EBITDA stabil di level 49,4%. Kenaikan EBITDA utamanya didorong oleh berlanjutnya kenaikan rata–rata pendapatan per pengguna (ARPU) ke level Rp46 ribu serta jumlah pelanggan yang relatif stabil secara kuartalan di level 153,5 juta pada 2Q26.
Pendapatan segmen mobile Telkomsel pada 1H26 meningkat ke ~Rp42,8 T (+5,6% YoY), didorong oleh berlanjutnya kenaikan ARPU menjadi Rp46 ribu pada 2Q26 (+11,7% YoY, +2% QoQ), dengan exit ARPU pada Juni 2026 telah menyentuh di atas Rp47 ribu. Jumlah pelanggan juga tercatat mulai stabil di level 153,5 juta pada 2Q26 (-3,1% YoY, -0,1% QoQ).
Ke depan, TLKM diproyeksikan berfokus pada strategi yang mengutamakan pelanggan berkualitas tinggi (high–quality, low–churn customers).
Sementara itu, pendapatan segmen fixed broadband IndiHome pada 1H26 melemah ke ~Rp12,8 T (-3,8% YoY), seiring penurunan ARPU ke level Rp211 ribu (-2,7% YoY, +3,4% QoQ) dan menyusutnya jumlah pelanggan ke level Rp9,5 juta (-5,4% YoY, -7,9% QoQ). Dalam earnings call pada Senin (3/8), manajemen TLKM menjelaskan bahwa penurunan jumlah pelanggan adalah bagian dari proses rekalibrasi basis pelanggan, dengan mengeluarkan pelanggan yang tidak menyalurkan kontribusi pendapatan selama lebih dari 12 bulan dan diperkirakan tidak akan kembali berlangganan.
Hingga akhir 2Q26, TLKM telah menjalankan streamlining melalui 2 divestasi, 2 merger, serta penutupan 8 bisnis. Divestasi 2 bisnis healthcare (AdMedika dan Telkomedika) menghasilkan keuntungan setelah pajak sebesar ~Rp429 M. Ke depan, TLKM menargetkan penyelesaian 6 divestasi, 2 merger, dan 4 penutupan bisnis hingga akhir 2026.
Pada bisnis fiber, TLKM menargetkan penyelesaian fase ke–2 transfer aset Infranexia pada 2H26, secara bersamaan sedang dalam proses menghadirkan strategic partner. Manajemen juga menyatakan bahwa milestone penting akan diumumkan pada akhir 3Q26, dengan target implementasi dimulai pada 4Q26.
Ringkasnya, untuk bisnis data center, TLKM masih mencari strategic partner, dengan target value unlocking selesai pada akhir 2026.
Manajemen TLKM juga menyatakan bahwa belum akan menjalankan perubahan guidance 2026. Meski pertumbuhan pendapatan selama 1H26 telah menyentuh +4% YoY dan melampaui di kisaran +1–3% YoY, manajemen memperkirakan divestasi yang akan dilakukan pada 2H26 dapat menyalurkan tekanan moderat terhadap pertumbuhan pendapatan ke depan.
Manajemen juga menambahkan bahwa seiring proses divestasi yang masih berlangsung, beberapa bisnis yang akan dijual berpotensi menahan pengembangan proyek baru, alhasil pertumbuhan pendapatannya menjadi lebih terbatas.
Secara keseluruhan, kami menilai kinerja TLKM pada 2Q26 menunjukkan hasil yang positif. Setelah membukukan laba bersih yang relatif lemah pada 1Q26 (-22% YoY, +114% QoQ), TLKM berhasil membukukan pemulihan laba bersih yang kuat pada 2Q26 (+28% YoY, +45% QoQ). Pertumbuhan pendapatan pada 1H26 pun menyentuh +4% YoY, melampaui guidance 2026 dari manajemen di kisaran +1–3% YoY.
Selain pertumbuhan pendapatan yang melampaui guidance dan margin EBITDA yang hanya sedikit di bawah target, rasio capex–to–revenue pada 1H26 yang hanya menyentuh 14,2% (vs. guidance: 17–19%) turut mendorong kenaikan free cash flow sebesar +12,8% YoY. Free cash flow yang lebih kuat menyalurkan fleksibilitas yang lebih besar bagi TLKM untuk menurunkan utang maupun meningkatkan pembagian dividen ke depan.
Harga saham TLKM ditutup terangkat +4,2% pada penutupan perdagangan hari Senin (3/8).
“Laporan yang terlambat juga belum tentu menyimpan kerugian. Bisa saja perusahaan justru ingin menyalurkan angka yang sudah ditinjau dan lebih dapat dipercaya.” — skydrugz27
Ringkasnya, per 2 Agustus 2026, masih terdapat 196 saham dari 965 saham di IHSG (20,3%) yang belum merilis laporan keuangan (LK) Q2 2026. Keterlambatan pengunggahan laporan keuangan tidak serta-merta mengartikan perusahaan menutupi masalah.
Sementara itu, Stockbitor skydrugz27 berpendapat bahwa emiten tetap perlu menyalurkan penjelasa mengenai alasan keterlambatan agar investor memperoleh kepastian. Dalam tulisannya, skydrugz27 juga menyoroti calon mesin laba masih terkonsentrasi pada sektor-sektor seperti perbankan, batu bara, emas, minyak, dan gas.
Selain itu, ia membahas lebih dalam laporan keuangan sejumlah emiten dengan laba besar pada Q1, termasuk kasus unik PSAB yang membukukan laba bersih melebihi pendapatan (revenue). Untuk memahami analisis lengkapnya, cermati ulasan skydrugz27 dibawah ini!
Ringkasnya, skydrugz27 mulai bergabung di komunitas Stockbit sejak tahun 2017. Di Stream Stockbit, ia rajin berbagi insight dalam berinvestasi, terutama bagi para investor karyawan dan mempopulerkan istilah investasi se-lot se-lot. Kamu bisa temukan insight menarik lainnya dari skydrugz27 di sini.
Ringkasnya, pT Stockbit Karya Indonesia
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

