Ringkasnya, pT Ciputra Development Tbk (CTRA) menyiapkan sejumlah strategi untuk mempertahankan kinerja di tengah tantangan industri properti sepanjang 2026.
Di tengah tingginya suku bunga, pelemahan daya akumulasi masyarakat, hingga tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pengembang ini tetap membidik marketing sales sebesar Rp9,5 triliun.
Ringkasnya, manajemen CTRA mengakui kondisi pasar properti masih belum sepenuhnya pulih.
Permintaan di sejumlah wilayah masih tertahan akibat melemahnya daya akumulasi, alhasil perusahaan memilih memasang target yang realistis dan konservatif.
Sekretaris Perusahaan PT Ciputra Development Tbk, Aditya Ciputra Sastrawinata, menuturkan perseroan sejak awal telah memperkirakan pendapatan dan laba bersih 2026 turun sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Cermati Proyeksi Ciputra Development (CTRA) yang Hadapi Tantangan pada Tahun 2026
Meski demikian, target marketing sales masih dipertahankan di level Rp9,5 triliun.
"CTRA optimistis mampu menyentuh target marketing sales 2026 melalui penerapan strategi yang berfokus pada pengembangan produk residensial dan diversifikasi geografis, di samping juga memanfaatkan program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP)," ujarnya.
Ringkasnya, salah satu andalan CTRA adalah memaksimalkan pemanfaatan insentif PPN DTP.
Pada awal 2026, perseroan masih memiliki stok properti bernilai sekitar Rp1 triliun yang memenuhi syarat program tersebut, adalah sisa stok tahun sebelum itu.
Selain itu, perusahaan mempercepat pembangunan unit-unit yang belum terjual agar dapat diserahterimakan sebelum akhir tahun, alhasil pembeli masih bisa menikmati insentif PPN DTP.
Sepanjang 2026, total aset CTRA yang masuk dalam program ini menyentuh sekitar Rp4 triliun.
Hingga Maret 2026, sekitar 51% atau bernilai Rp1,30 triliun dari total marketing sales CTRA berasal dari penjualan unit yang mengikuti program PPN DTP.
Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Proyeksikan Laba Mengalami pelemahan 10% pada 2026
Meski demikian, pola permintaan konsumen mulai bergeser. Penjualan rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar melemah ke hanya 8% pada kuartal I-2026.
Ringkasnya, sebaliknya, kontribusi penjualan rumah dengan harga Rp2 miliar hingga Rp5 miliar justru meningkat, menunjukkan permintaan lebih kuat datang dari segmen menengah atas.
Ringkasnya, padahal, insentif PPN DTP 100% ditujukan bagi pembelian rumah dengan harga di bawah Rp2 miliar.
Ringkasnya, karena itu, manajemen menilai keputusan konsumen membeli properti tidak semata-mata dipengaruhi insentif pajak, tetapi juga ditentukan oleh arah suku bunga, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

