PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan peningkatan arus kas operasional (operating cash flow/OCF) pada tahun 2025 meskipun laba bersih mengalami kontraksi.
Mengacu laporan keuangan Telkom, laba bersih Telkom turun 20 persen menjadi Rp17,8 triliun. Pada periode serupa, OCF justru meningkat 3,6 persen menjadi Rp61,6 triliun dengan penerimaan kas dari pelanggan relatif stabil di angka Rp146 triliun.
"Sebetulnya yang paling penting ini teman-teman, keuntungan, real keuntungan ya, cash-nya, karena kalau net income (laba bersih) sebetulnya kan accounting (akuntansi), tapi kalau cash ini real keuntungan ya," kata Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini dalam Executive Media Update di Telkom Plaza, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Dian menjelaskan, penurunan laba bersih Telkom bersifat non-operasional, terutama dipicu dari depresiasi dan program pensiun dini dalam rangka memperkuat operational & service exellence yang menjadi salah satu pilar inisiatif TLKM30.
Pada 2025, beban penyusutan dan amortisasi meningkat tajam dari Rp34,18 triliun berubah menjadi Rp37,65 triliun. Kenaikan tersebut, kata Dian, disebabkan oleh perubahan perhitungan akuntansi dan reklasifikasi aset, terutama masa depresiasi drop cable (last mile to customer) dari 25 tahun berubah menjadi 5-10 tahun.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

