Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), Indrieffouny Indra menerangkan 3 strategi transformasi bisnis semen menghadapi tantangan overcapacity dan pertumbuhan industri semen yang masih stagnan. Transformasi bisnis SIG meliputi peningkatan ritel sales untuk menjangkau pasar yang lebih luas, menekan biaya produksi hingga mengembangkan bisnis non-semen.
Salah satu bisnis non-semen SIG adalah semen hijau/green cement yang adalah produk semen dengan emisi karbon yang rendah yang menggunakan material substitusi berasal dari alam yang lebih banyak hingga 38%. Langkah ini diharapkan bisa membawa SIG sebagai "game changer" dalam industri hijau dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Semen Hijau SIG juga berhasil masuk pasar ekspor ke Reunion Island telah memperoleh sertifikat CE (Conformité Européenne) yang memenuhi standar keselamatan dan keamanan lingkungan dari Uni Eropa. Inovasi semen hijau ini menjadi bagian dari upaya SIG untuk meningkatkan sumber pendapatan baru bagi perusahaan hingga menyentuh 49% secara bersamaan meningkatkan efisiensi energi.
Di sisi lain SIG memastikan upaya perusahaan menerapkan prinsip keberlanjutan atau ESG (Environmental, Social, and Governance) yang diantaranya digelar melalui pencapaian pemanfaatan program CSR bagi 9,8 Juta Jiwa di tahun 2025 pada sektor pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya dan infrastruktur. SIG menargetkan pada 2030 menjadi perusahaan penyedia solusi bangunan terbesar di regional dengan market share nasional menyentuh 50% dari kini 46,3%.
Langkah ini dilakukan melalui fokus ke pasar ritel dan semen curah Selengkapnya cermati dialog Maria Katarina dengan Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), Indrieffouny Indra dalam Manufacture Check, CNBC Indonesia (Rabu, 10/06/2026)A
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

