PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membukukan penurunan kinerja di tiga bulan pertama tahun 2026. Ruginya bahkan melonjak pada tiga bulan pertama tahun berjalan.
Mengutip laporan keuangannya, pendapatan bersih WIKA tercatat Rp2,6 triliun di kuartal I 2026. Ini mengalami pelemahan 16,34% dari Rp3,11 triliun di kuartal I 2025.
Ringkasnya, segmen infrastruktur dan gedung berkontribusi mayoritas ke pendapatan, yaitu Rp1,20 triliun. Lalu, segmen industri berkontribusi Rp682,18 miliar, segmen energi dan industrial plant Rp552,82 miliar, segmen hotel Rp52,85 miliar.
Baca Juga: Berhasil Masuk Indeks LQ45, Fundamental Hartadinata Abadi (HRTA) Makin Kuat
Ringkasnya, kemudian, segmen realty dan property menyumbang Rp33,73 miliar dan segmen investasi Rp78,46 miliar.
Beban pokok pendapatan ikut mengalami pelemahan dari Rp2,88 triliun berubah menjadi Rp2,36 triliun di akhir Maret 2026.
Laba kotor tercatat masih naik 3,03% year on year (YoY) dari Rp238,35 miliar di kuartal I 2026, dari sebelum itu Rp231,33 miliar.
Sayangnya, akibat ditekan sejumlah beban yang berat, WIKA pun membukukan rugi bersih Rp1,13 triliun di akhir Maret 2026. Ini naik 45,73% dari rugi Rp780,17 miliar di Maret 2025.
Dengan kinerja tersebut, WIKA mengantongi rugi per saham dasar Rp28,52 di kuartal I 2026, naik dari rugi per saham dasar Rp19,57 di periode sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Kinerja PT PP (PTPP) Turun Sepanjang Kuartal I-2026, Laba Terjungkal 15%
Per 31 Maret 2026, WIKA punya jumlah aset Rp48,68 triliun. Ini mengalami pelemahan dari Rp50,14 triliun per 31 Maret 2025.
Jumlah liabilitas perseroan senilai Rp48,16 triliun di akhir Maret 2026, mengalami pelemahan dari Rp48,46 triliun di akhir Desember 2025. Sementara, total ekuitas tercatat Rp516,08 miliar per kuartal I 2026, mengalami pelemahan dari Rp1,68 triliun di akhir tahun 2025.
WIKA memiliki kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp1,45 triliun di akhir Maret 2026, turun dari Rp1,6 triliun di periode sama tahun sebelumnya.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

