PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) telah menuntaskan transformasi sistem Information Technology (IT) sebagai pondasi percepatan bisnis dan penguatan layanan digital. Transformasi ini adalah bagian dari agenda strategis BSI selama satu tahun terakhir yang dijalankan dengan dukungan dan supervisi Danantara, alhasil perseroan bersiap memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menuturkan transformasi teknologi menjadi kebutuhan strategis seiring pesatnya digitalisasi industri keuangan dan pertumbuhan bisnis BSI. Dia mengungkap BSI memiliki potensi meningkat sangat besar. "Sekarang BSI berdampingan dengan bank besar karena sudah masuk 5 besar bank di Indonesia.
Ringkasnya, ekspektasi nasabah adalah layanan, sistem harus sama dengan bank besar. Untuk itu, kami berupaya menyediakan layanan setara sesuai ekspektasi nasabah," katanya di acara "Ngopi Bareng Media Akselerasi Transformasi Digital BSI" Rabu (1/7/2026).
Transformasi ini juga akan menjadi langkah BSI menyentuh visi menjadi Top 5 Global Islamic bank serta aspirasi memiliki nasabah 40 juta tahun 2030. Selama proses transformasi, Danantara berperan aktif menyalurkan arahan strategis, supervisi, serta memastikan implementasi transformasi berjalan sesuai prinsip tata kelola dan manajemen risiko.
Lebih lanjut Anggoro mengungkap dalam satu tahun terakhir, BSI membukukan pertumbuhan signifikan dari dual licence yakni bank syariah dan bank emas. "Bank emas menjadi engine baru kami menggaet segmen yang selama ini belum dapat kami jangkau," katanya. Jumlah nasabah naik ke lebih dari 24 juta per April 2026, menyusul licence Bank Emas pada Februari 2025 dan kenaikan status BSI menjadi Persero pada awal 2026.
Status tersebut memperkuat posisi BSI sebagai bagian dari ekosistem strategis BUMN. Migrasi core banking dari R10 ke R24 yang rampung pada pertengahan Mei 2026 berubah menjadi salah satu proyek teknologi terbesar BSI dengan melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi.
Ringkasnya, seluruh proses dilakukan secara bertahap melalui berbagai rehearsal, dengan pengawasan OJK dan Danantara untuk memastikan implementasi berjalan aman, terkendali, dan transparan. Transformasi tersebut meningkatkan efisiensi operasional hingga sekitar 80 persen, mempercepat proses Close of Business (COB), serta memperbesar kapasitas sistem untuk mendukung ekspansi bisnis digital dan inovasi produk.
Kini availability all channell BSI 99,99% alhasil transaksi melalui channel digital dan cabang berlangsung lancar. ''Ruang untuk menumbuhkan nasabah, inovasi untuk fitur baru di BYOND sangat luas karena kapasitas terpakai masih di bawah 10%. Nasabah akan merasakan manfaat dari kekuatan dan kecepatan IT BSI yang baru," tutur Anggoro.
Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, BSI terus memperkuat layanan digital melalui BYOND by BSI untuk segmen ritel dan BEWIZE by BSI bagi nasabah institusi/wholesale. Hingga Mei 2026, layanan mobile banking BSI telah digunakan lebih dari 10 juta pengguna dengan nilai transaksi melampaui Rp450 triliun, sementara BEWIZE terus membukukan pertumbuhan pengguna dan transaksi sebagai penggerak bisnis wholesale. "Dengan dukungan ekosistem yang semakin kuat bersama Danantara, transformasi teknologi yang telah selesai, serta model bisnis yang terus berkembang, BSI optimistis mampu menjadi motor penggerak ekonomi syariah nasional secara bersamaan menghadirkan layanan keuangan yang semakin modern, inklusif, dan kompetitif," kata Anggoro.
Transformasi teknologi dan ekspansi bisnis tersebut tercermin pada kinerja keuangan BSI yang tetap solid. Hingga Mei 2026, BSI membukukan laba bersih (unaudited) sebesar Rp3,39 triliun atau meningkat 16,73 % (YOY).
Total aset menyentuh Rp444 triliun, Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp372 triliun, dan pembiayaan sebesar Rp335 triliun dengan kualitas terjaga.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

