Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak terangkat terbatas pada perdagangan Senin (25/5/2026). Pergerakan indeks diperkirakan berada di rentang level 5.850 hingga 6.350.
Ringkasnya, proyeksi tersebut disampaikan Retail Research & Investment Bahana Sekuritas, Dimas Wahyu Putra Pratama, CTA, dalam riset yang dirilis hari ini. Ia menilai arah pergerakan IHSG masih didukung sentimen teknikal yang positif meski dalam rentang terbatas.
“Secara teknikal IHSG Senin 25 Mei 2026 diperkirakan akan bergerak terangkat terbatas,” ujar Dimas.
Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), IHSG berhasil naik menembus level 6.100. Meski sempat dibuka terkoreksi di level Rp6.065,626, indeks ditutup terangkat 67,104 poin atau naik 1,10% ke level Rp6.162,045. Posisi ini meningkat dari penutupan Kamis (21/5/2026) yang berada di level Rp6.094,941.
Sejumlah saham menjadi penopang utama penguatan indeks pada akhir pekan lalu. Di antaranya adalah MDKA yang meroket 24,77%, EMAS naik 19,67%, BRMS terangkat 11,50%, BUMI naik 12,80%, dan ENRG yang meningkat 22,13%. Sementara itu, investor asing membukukan aksi lepas bersih (net sell) menyentuh Rp309 miliar.
Kondisi pasar global turut menyalurkan katalis positif. Bursa Wall Street ditutup terangkat berkat kemajuan perundingan damai Amerika Serikat (AS)-Iran serta laporan kinerja emiten teknologi seperti Nvidia dan Alphabet yang meningkat dua digit pada Kuartal I 2026. Bursa Asia juga terangkat dipicu penurunan US Treasury Yield.
Selain itu, harga minyak dunia merangkak naik akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Data International Energy Agency (IEA) membukukan persediaan minyak global turun 246 juta barel pada Maret dan April 2026 menyusul penutupan Selat Hormuz.
Di sektor komoditas, harga logam industri seperti aluminium, timah, dan nikel mengalami reli tajam sepanjang 2026. Per Jumat (22/5/2026), harga aluminium mengalami kenaikan 0,35% berubah menjadi USD 3.650 per ton. Sementara harga timah berada di level USD 53.248 per ton dan nikel di level USD 18.880 per ton.
Ringkasnya, kenaikan harga logam ini dipicu ketatnya pasokan bahan baku akibat lambatnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di Indonesia. Wahyu menjelaskan, pada Kuartal I 2026, penerimaan devisa negara non-migas menembus USD 66,85 miliar berkat ekspor hilirisasi nikel, baja tahan karat, timah, dan aluminium.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate senilai 50 basis poin berubah menjadi 5.25%. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas di tengah pengetatan moneter global.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha Praviandi Kuantan, menjelaskan ada perubahan skema insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hal ini bertujuan agar perbankan tidak menaikkan suku bunga kredit secara signifikan. Bank yang mampu menjaga selisih bunga (spread) di bawah 3% diproyeksikan mendapatkan insentif maksimum 100 bps.
Ringkasnya, sejumlah sektor dinilai menarik untuk dicermati pelaku pasar hari ini. Sektor tersebut mencakup IDXTECH, IDXPROP, IDXNCYC, IDXFIN, IDXINFRA, IDXTRANS, dan IDXINDUS.
Ringkasnya, untuk perdagangan sepekan ke depan, Bahana Sekuritas merekomendasikan saham-saham berikut:
Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau melepas saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

