PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG membukukan reli kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp80 miliar. Angka ini meroket 88,7% dibandingkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp42,58 miliar pada periode serupa tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, pertumbuhan laba sejalan dengan peningkatan pendapatan yang menyentuh Rp8,29 triliun. Realisasi ini naik 8,3% dari periode serupa tahun sebelum itu sebesar Rp7,65 triliun.
Kontributor utama pendapatan berasal dari penjualan pihak ketiga sebesar Rp7,84 triliun dan pihak berelasi Rp453,12 miliar. Secara segmen, penjualan semen masih mendominasi dengan nilai Rp6,43 triliun. Volume penjualan naik 1,7% secara tahunan menjadi 8,71 juta ton. Kenaikan ini ditopang pertumbuhan signifikan pada segmen semen kantong domestik yang meroket 11% secara tahunan.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menuturkan transformasi bisnis Perseroan berfokus pada tiga strategi utama. “Peningkatan pengelolaan pasar mikro, efisiensi biaya, serta optimalisasi produk turunan semen dan portofolio menjadi katalis pertumbuhan kinerja perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Seiring peningkatan volume, beban pokok pendapatan naik 8,6% menjadi Rp6,62 triliun. Kenaikan ini dipicu volume penjualan serta reli harga bahan bakar dan energi. Meski begitu, Perseroan berhasil menekan beban keuangan bersih hingga turun 35,4%. Biaya keuangan pada kuartal I 2026 tercatat Rp172,23 miliar, lebih rendah dari Rp218 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya.
Vita menambahkan, kinerja positif ini tidak melepas dari disiplin Perseroan dalam menjalankan transformasi bisnis. “Pencapaian ini memperkuat keyakinan kami bahwa langkah strategis yang ditempuh berada di jalur yang tepat,” tegasnya.
Ringkasnya, ke depan, SIG melalui anak usahanya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), bersama Taiheiyo Cement Corporation (TCC) telah merampungkan pengembangan dermaga dan fasilitas ekspor di Tuban, Jawa Timur. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026.
“Rampungnya pengembangan dermaga dan fasilitas produksi di Tuban berubah menjadi momentum untuk mendorong ekspor semen dengan margin lebih tinggi, tidak hanya ke Amerika Serikat tetapi juga ke berbagai negara lainnya,” kata Vita.
Dari sisi neraca, total aset SIG per 31 Maret 2026 tercatat Rp75,46 triliun, mengalami pelemahan dari posisi akhir 2025 senilai Rp76,57 triliun. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya liabilitas dari Rp27,15 triliun berubah menjadi Rp26,07 triliun. Sementara itu, ekuitas masih solid di level Rp47,79 triliun.
Perseroan juga membukukan laba per saham dasar sebesar Rp12, meningkat 100% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu sebesar Rp6 per saham.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

