Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Ari Rizaldi menyatakan perekonomian Indonesia menunjukkan resiliensi yang baik di tengah ketidakpastian ekonomi global. "Kita lihat pada triwulan II-2026 ekonomi Indonesia itu meningkat 5,29 persen, alhasil secara kumulatif pertumbuhan ekonomi pada semester 1-2026 itu menyentuh 5,45 persen. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh permintaan domestik termasuk investasi dan juga konsumsi pemerintah," ujarnya dalam agenda Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook bertajuk "Indonesia Economic Outlook: Building Domestic Resilience in the Midst of Global Vulnerability" yang diadakan secara virtual, di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, konsumsi pemerintah pada triwulan II-2026 meningkat 15,97 persen year on year (yoy), yang sejalan dengan implementasi berbagai program pembangunan dan belanja prioritas. Untuk konsumsi rumah tangga, menunjukkan moderasi pasca membukukan pertumbuhan tinggi di triwulan sebelum itu.
Mandiri Spending Index menunjukkan pertumbuhannya sebesar 6,1 persen yoy di kuartal II-2026 dan 5,8 persen yoy selama periode Juli-Agustus 2026. Adapun inflasi masih tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI), yang menyentuh 3,19 persen yoy pada Agustus 2026. "Kondisi ini tentunya menyalurkan fondasi yang cukup positif bagi daya akumulasi masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan," ujar Ari.
Berikutnya, neraca pembayaran Indonesia pada triwulan II-2026 dinilai menunjukkan perkembangan konstruktif meski membukukan defisit 0,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS), tetapi jauh lebih kecil dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS pada triwulan sebelum itu. Terkait transaksi berjalan, dia menyatakan pelebaran defisit berlangsung terutama akibat kenaikan impor migas karena tingginya harga energi dan peningkatan impor non-migas untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik.
Sementara itu, kata Ari kembali, perkembangan tersebut diimbangi surplus transaksi modal dan finansial sebesar 12 miliar dolar AS yang didukung oleh masuknya investasi langsung maupun investasi portfolio. Nilai tukar rupiah juga dinyatakan menunjukkan perbaikan dari tekanan yang berlangsung sebelum itu, yakni terangkat 1,56 persen di akhir Agustus 2026, yang mendorong BI tetap mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen pada pertemuan terakhir Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. "Kami melihat memang koordinasi kebijakan menjadi semakin penting dalam kondisi kini.
Ringkasnya, sinergi antarpemerintah, kemudian Bank Indonesia, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), serta industri keuangan itu diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi, kemudian kecukupan likuiditas, serta keberlanjutan fungsi intermediasi dalam tentunya mendukung aktivitas ekonomi," kata Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

