PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) telah merealisasikan penggunaan dana hasil penerbitan Obligasi I Daaz Bara Lestari Tahun 2025 senilai Rp273,95 miliar hingga 30 Juni 2026. Perseroan masih menyimpan sisa dana senilai Rp219,71 miliar pada sejumlah bank.
Berdasarkan laporan penggunaan dana yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), DAAZ memperoleh dana hasil penawaran umum obligasi senilai Rp500 miliar. Sesudah dikurangi biaya emisi Rp6,33 miliar, perseroan membukukan hasil bersih senilai Rp493,66 miliar.
Ringkasnya, dana tersebut direncanakan digunakan untuk mendukung kebutuhan pendanaan sejumlah entitas anak, termasuk pembelian batubara, pengadaan kapal, tongkang, serta pembelian bahan bakar solar.
Adapun realisasi penggunaan dana hingga akhir Juni 2026 meliputi pinjaman kepada PT Bara Makmur Dwitama untuk pembelian batubara senilai Rp89,9 miliar. Kemudian pinjaman kepada PT Aserra Logistik Indonesia senilai Rp73,8 miliar untuk pembelian dua unit kapal self-propelled oil barge dan Rp56,826 miliar untuk pembelian tiga set kapal tunda dan tongkang.
Ringkasnya, selain itu, DAAZ telah menyalurkan Rp14,76 miliar kepada PT Indo Lautan Energi untuk pembelian satu unit tongkang minyak dan Rp38,665 miliar untuk pembelian bahan bakar solar. Penggunaan dana untuk pembelian bahan bakar solar telah terealisasi 100%.
Dengan demikian, masih terdapat sisa dana obligasi senilai Rp219,714 miliar yang belum digunakan. Dana tersebut ditempatkan pada instrumen giro dan deposito di beberapa bank.
Detailnya, sebesar Rp30 miliar ditempatkan pada giro Bank Permata dengan bunga 3,5%, Rp89,28 miliar pada giro PT Bank Maybank Indonesia Tbk dengan bunga 3,5%, Rp20 miliar pada giro Maybank berbunga 4,5%, Rp53,568 miliar pada deposito Bank Negara Indonesia (BNI) dengan bunga 4%, serta Rp26,866 miliar pada giro BNI dengan bunga 4,5%. Seluruh penempatan tersebut dilakukan pada pihak ketiga dengan jangka waktu satu bulan.
Dalam laporan tersebut, Chief of Investor Relations PT Daaz Bara Lestari Tbk, Yulianti, menyatakan, “Demikian untuk diketahui.” Laporan penggunaan dana ini disampaikan pada 15 Juli 2026.
Biaya penerbitan obligasi tercatat senilai Rp6,334 miliar atau setara 1,267% dari total dana yang dihimpun. Biaya terbesar berasal dari jasa penyelenggaraan (management fee) senilai Rp2,8 miliar, diikuti biaya profesi penunjang pasar modal Rp1,123 miliar dan biaya jasa penjaminan serta penjualan masing-masing Rp600 juta.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

