Kinerja dua emiten Grup Indofood, yakni PT Indofood Berhasil Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Berhasil Makmur Tbk (ICBP), berpotensi tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut.
Sebagai informasi, kurs rupiah kembali membukukan pelemahan pada perdagangan Selasa (19/5). Di pasar spot, rupiah turun Rp38 atau 0,22% ke level Rp17.706 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, kurs Jisdor terkoreksi Rp53 atau 0,30% menjadi Rp17.719 per dolar AS.
Direktur INDF, Franciscus Welirang menuturkan sejauh ini depresiasi rupiah belum membawa beban bagi kinerja. Menurutnya, kondisi operasional perusahaan masih berjalan normal hingga kini.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Berisiko Pelemahan pada Rabu (20/5), Cermati Rekomendasi Saham Berikut
Saat ditanya apakah kondisi pelemahan rupiah akan membuat Indofood lebih mengandalkan pasar ekspor, Franciscus menekankan pasar domestik tetap menjadi fokus perusahaan.
“Tentu domestik masih saja,” kata Franciscus kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).
Franciscus bilang, kontribusi ekspor lebih berperan sebagai penyeimbang di tengah tekanan nilai tukar. Dus, kinerja ekspor diharapkan berpotensi membantu mengimbangi dampak depresiasi rupiah terhadap biaya produksi perusahaan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menerangkan tekanan depresiasi rupiah terhadap kinerja kedua emiten berpotensi muncul karena ketergantungan yang masih cukup besar terhadap bahan baku impor, terutama gandum yang digunakan untuk produksi mi instan.
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya bahan baku dalam denominasi dolar Amerika Serikat. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka margin laba berpotensi tertekan, terutama apabila kenaikan biaya tidak sepenuhnya berpotensi diteruskan ke konsumen.
Meski demikian, dampaknya terhadap fundamental diperkirakan masih relatif terkendali karena, ICBP memiliki brand yang sangat kuat, terutama Indomie, alhasil memiliki pricing power yang baik.
Ringkasnya, "Perseroan memiliki skala bisnis besar dan efisiensi operasional yang kuat," kata Alrich kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).
Ringkasnya, baca Juga: Menilik Prospek Emiten Properti di Tengah Tekanan Rupiah dan Suku Bunga
Selain itu, diversifikasi usaha INDF cukup luas, termasuk bisnis agribisnis melalui PT Salim Ivomas Pratama Tbk dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk yang berpotensi berubah menjadi penyeimbang.
"Dengan demikian, pelemahan rupiah memang berpotensi menekan margin dalam jangka pendek, tetapi belum tentu menggerus fundamental secara signifikan," ucap Alrich.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, turut mengamini pelemahan rupiah memang berubah menjadi salah satu sentimen yang membebani INDF dan ICBP, terutama karena masih adanya ketergantungan terhadap bahan baku impor seperti gandum yang berbasis dolar AS.
Untuk menjaga fundamental, perusahaan perlu menjaga efisiensi operasional, menjalankan penyesuaian harga secara bertahap, serta memperkuat diversifikasi bisnis dan pengelolaan lindung nilai (hedging) terhadap eksposur kurs.
Alrich juga menerangkan terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan perusahaan antara lain, menjalankan hedging untuk meminimalkan risiko nilai tukar, menyesuaikan harga lepas secara bertahap, meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan kontribusi bisnis ekspor dan unit usaha yang memperoleh pendapatan berbasis dolar dan menjaga struktur modal dan likuiditas tetap sehat.
Baca Juga: Hasil Pertemuan BEI, Pemerintah & DPR: Free Float 20%–30% Diusul Berpotensi Insentif Pajak
"Selama strategi tersebut dijalankan dengan baik, dampak pelemahan rupiah terhadap profitabilitas berpotensi diminimalkan," terang Alrich.
Bagi investor, Alrich menerangkan pelemahan rupiah lebih tepat dipandang sebagai risiko jangka pendek, bukan ancaman terhadap prospek bisnis jangka panjang. Permintaan terhadap produk ICBP relatif defensif karena adalah kebutuhan sehari-hari. Karena itu, investor dapat memanfaatkan volatilitas harga sebagai kesempatan untuk akumulasi bertahap, terutama jika harga saham terkoreksi.
Adapun Azis kini lebih menyarankan wait and see mengingat harga masih mengalami downtrend.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

