Ringkasnya, penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) membuka tahun 2026 dengan kinerja yang lebih baik setelah berhasil mencetak laba Rp123,6 miliar pada kuartal I-2026. Capaian ini berbalik dari rugi Rp126,4 miliar pada periode serupa tahun sebelum itu.
Analis menilai, pembalikan kinerja tersebut berubah menjadi sinyal awal pemulihan, meski konsistensi masih berubah menjadi faktor penentu hingga akhir tahun.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menuturkan, perbaikan laba menunjukkan transformasi yang dijalankan mulai membuahkan hasil.
Ringkasnya, baca Juga: Kinerja Solid, Kimia Farma (KAEF) Bukukan Laba Rp123 Miliar di Kuartal I-2026
โPerbaikan laba pada kuartal I menunjukkan transformasi mulai membuahkan hasil. Sementara itu, konsistensi kinerja pada kuartal berikutnya tetap diperlukan agar pemulihan berkelanjutan,โ ujarnya kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).
Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengungkap, pembalikan laba menjadi tonggak awal, tetapi perlu konfirmasi pada kuartal berikutnya.
โPembalikan laba di kuartal I-2026 adalah milestone penting sementara itu perlu dikonfirmasi minimal dua kuartal kembali,โ jelasnya.
Ringkasnya, abida menilai prospek kinerja KAEF pada sisa 2026 cenderung moderat positif, didorong oleh normalisasi operasional serta pemulihan volume obat generik berlogo (OGB) dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
โTarget pertumbuhan pendapatan dobel digit untuk tahun 2026 realistis jika efisiensi Q1 berpotensi dipertahankan konsisten,โ tambahnya.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Targetkan Pasar Lansia dan Perkuat Bahan Baku Obat Lokal
Dari sisi strategi, KAEF berencana meluncurkan produk terapi penyakit kronis serta mengembangkan segmen non-farmasi. Langkah ini dinilai berpotensi berubah menjadi pendorong pertumbuhan jangka menengah.
Azis menuturkan, kedua segmen tersebut memiliki potensi meningkatkan pendapatan secara bersamaan margin.
Ringkasnya, โProduk terapi penyakit kronis dan non-farma berpotensi meningkatkan pendapatan serta margin karena permintaannya stabil dan memiliki nilai tambah lebih tinggi, meski kontribusinya masih bertahap,โ ujarnya.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

