Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 3,4 persen ke level 7.129,49 pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Salah satu penyebab utamanya yakni penurunan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Saham BBCA turun 5,84 persen ke Rp6.050. Penurunan harga saham bank dengan bobot terbesar di IHSG itu adalah kejadian tak biasa karena terakhir kali saham BBCA berada di level tersebut yakni saat pandemi Covid-19.
Tekanan yang berlangsung pada saham BBCA kemarin dipicu aksi lepas investor asing (net sell) sebesar Rp2 triliun, terutama dimotori oleh broker UBS Sekuritas (AK), JP Morgan Sekuritas (BK), serta Macquarie Sekuritas (RX). Porsi penjualan asing tersebut setara 67 persen dari net sell IHSG pada hari yang sama sebesar Rp3,02 triliun.
Pelemahan tersebut juga seiring pengumuman Fitch Rating yang memangkas outlook bank besar di Indonesia dari stabil menjadi negatif, termasuk BBCA. Langkah ini mengekor Moody's yang sebelum itu menjalankan hal yang sama dengan menyalurkan sinyal risiko terhadap pengelolaan APBN yang berdampak tak langsung terhadap kondisi perbankan secara nasional.
Transmisi perekonomian yang melambat terhadap kinerja BBCA juga mulai tampak. Pada kuartal I-2026, bank swasta raksasa itu membukukan pertumbuhan laba bersih yang melambat sebesar 4 persen.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

