Telkom Indonesia ($TLKM) membukukan laba bersih Rp4,3 T pada 1Q26 (-22% YoY, +114% QoQ), di bawah ekspektasi karena hanya setara 19% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q25: 31% laba bersih 2025).
Sementara itu, laba bersih ternormalisasi pada 1Q26 tercatat Rp5,1 T, mengalami pelemahan -3,7% YoY. Penurunan laba bersih ternormalisasi disebabkan oleh pelemahan operasional, dengan margin EBITDA terkontraksi ke level 48,3% (vs. 1Q25: 49,8%, 4Q25: 48,1%).
Penyusutan margin EBITDA utamanya akibat kenaikan beban operasi, maintenance, dan telekomunikasi senilai +15% YoY seiring meningkatnya aktivitas operasional jaringan telekomunikasi, biaya leased line, dan biaya layanan digital yang terkait dengan pertumbuhan pendapatan. Manajemen TLKM memperkirakan laju beban operasi, maintenance, dan telekomunikasi diproyeksikan melambat pada kuartal–kuartal mendatang.
Ringkasnya, sebagai informasi, laba bersih ternormalisasi ini mengeluarkan dampak dari penyesuaian depresiasi akibat perubahan pada kebijakan akuntansi umur manfaat aset (Rp498 M), hasil investasi yang belum terealisasi akibat penurunan harga saham GoTo Gojek Tokopedia ($GOTO) (Rp309 M), serta penyesuaian biaya pajak dan minority interest.
Melihat kinerja 1Q26 TLKM, manajemen optimistis untuk menyentuh guidance 2026. Hingga 1Q26, pendapatan meningkat sekitar +2% YoY (vs. guidance 2026: +1–3% YoY), sementara capex–to–revenue ratio tercatat sebesar 13,2% (vs. guidance 2026: 17–19%), meski margin EBITDA di 48,3% berada sedikit di bawah guidance (vs. 2026 guidance: > 50%).
Average revenue per user (ARPU) Telkomsel pada 1Q26 masih mengalami kenaikan secara tahunan, tetapi relatif stabil secara kuartalan di level Rp45,1 ribu (+6,4% YoY, +0,2% QoQ). Kenaikan ARPU didorong oleh berlanjutnya perbaikan industri telekomunikasi dan hasil dari peningkatan layanan yang dilakukan TLKM. Sementara itu, jumlah pelanggan kembali mengalami penurunan ke level 153,7 juta (-3,2% YoY, -1,5% QoQ).
Dalam earnings call 1Q26, manajemen TLKM menjelaskan bahwa perseroan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan jumlah pelanggan, tetapi juga pada peningkatan kualitas pelanggan. Meski jumlah pelanggan turun, kualitas basis pelanggan membaik, yang tercermin dari berkurangnya rotational churn dan meningkatnya masa berlangganan pelanggan, di mana lebih dari 90% jumlah pelanggan kini memiliki masa berlangganan selama 12 bulan atau lebih.
Manajemen juga menambahkan bahwa meski ARPU pada 1Q26 terlihat relatif stabil, exit ARPU pada 1Q26 berada di level Rp47 ribu. Ke depan, manajemen masih optimistis diproyeksikan adanya ruang untuk pertumbuhan ARPU selama 2026, meski perseroan diproyeksikan mengedepankan strategi pricing yang disiplin dan fokus pada peningkatan nilai tambah produk sembari memantau kondisi makro–ekonomi yang berpotensi memengaruhi tingkat konsumsi.
Hingga awal Juni 2026, TLKM telah menjalankan streamlining terhadap 4 bisnis, termasuk penyelesaian divestasi 2 bisnis healthcare, yakni Admedika dan Telkomedika. Perseroan juga menargetkan tambahan 2 bisnis untuk dirampingkan dalam beberapa minggu ke depan.
Manajemen TLKM memperkirakan jumlah bisnis yang menjalani proses streamlining diproyeksikan berkisar 9–10 bisnis sebelum akhir 1H26. Sementara itu, TLKM terus melanjutkan proses value unlocking pada bisnis fiber melalui Infranexia dan bisnis data center.
Pada bisnis fiber, TLKM menargetkan penyelesaian fase ke–2 pada 3Q26, sedikit mundur dari target awal akibat proses pembersihan aset, perizinan, dan kesiapan operasional. Pada bisnis data center, TLKM sudah memasuki tahap lanjutan dengan sekitar 1–2 kandidat final yang diproyeksikan berubah menjadi investor strategis.
Transaksi ditargetkan rampung pada 2026, di mana TLKM akan tetap mempertahankan status sebagai pengendali. Kehadiran investor strategis diharapkan dapat memperluas peluang kontrak secara bersamaan memperkuat kapabilitas operasional.
Secara keseluruhan, berdasarkan kinerja 1Q26 ini, kami menilai TLKM masih dapat menyentuh guidance 2026 yang ditetapkan manajemen, didukung oleh berlanjutnya ekspansi ARPU, perbaikan kualitas pelanggan, serta perlambatan pertumbuhan beban pada kuartal–kuartal mendatang. Selain itu, manajemen TLKM menjelaskan terdapat potensi besar untuk monetisasi aset pada segmen infrastruktur B2B, dimana sekitar 85% pendapatan segmen tersebut pada 1Q26 masih berasal dari inter–segmen sebesar Rp13,9 T (setara 37% pendapatan konsolidasi 1Q26).
Ringkasnya, dalam earnings call 1Q26, manajemen juga mengindikasikan potensi pembagian dividen pada level yang atraktif dalam RUPS pada 8 Juni 2026.
Ringkasnya, “Tetapi dalam ekonomi, yang paling menentukan bukan suara paling keras di pasar, melainkan kekuatan fundamental yang bekerja diam-diam di belakang layar.” — InvestorfromPky
Pelemahan rupiah sering kali dipandang sebagai sinyal negatif bagi ekonomi, padahal tekanan terhadap mata uang negara berkembang kerap dipengaruhi oleh faktor global yang lebih luas. Dalam tulisannya, Stockbitor menjelaskan bahwa kondisi kini lebih mencerminkan penyesuaian akibat tingginya ketidakpastian global, penguatan dolar AS, suku bunga tinggi, serta arus modal internasional yang mencari aset aman.
Di sisi lain, Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah fondasi yang relatif kuat, mulai dari cadangan devisa yang memadai, intervensi aktif dari Bank Indonesia, hingga upaya memperkuat pasokan devisa melalui kebijakan ekspor dan hilirisasi. Dengan demikian, fokus investor seharusnya tidak hanya tertuju pada pergerakan kurs jangka pendek, tetapi juga pada kemampuan suatu negara menjaga stabilitas, kredibilitas kebijakan, serta daya tahan fundamental ekonominya di tengah tekanan global.
Ringkasnya, pT Stockbit Karya Indonesia
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

