PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencetak kinerja gemilang pada kuartal I 2026. Perseroan membukukan akselerasi pertumbuhan kredit yang melampaui rata-rata industri. Penyaluran kredit Bank Mandiri meroket 17,4% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi Rp1.530 triliun per Maret 2026.
Capaian ini jauh di atas pertumbuhan kredit industri perbankan nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026, industri hanya tumbuh sebesar 9,37% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor wholesale yang naik 24,2% YoY dan kredit korporasi yang menyumbang 50% dari total portofolio.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan menjelaskan kinerja positif ini adalah buah dari strategi sinergi yang terarah. “Bank Mandiri mengedepankan semangat Sinergi Majukan Negeri melalui penguatan UMKM, ekonomi kreatif, serta ekosistem digital,” ujar Riduan dalam paparan kinerja di Jakarta, Selasa (21/4).
Seiring melesatnya penyaluran kredit, laba bersih konsolidasi Bank Mandiri ikut terkerek naik. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp15,4 triliun pada tiga bulan pertama tahun 2026. Angka ini tumbuh 16,6% dibandingkan laba periode serupa tahun 2025 sebesar Rp13,2 triliun.
Profitabilitas perusahaan tetap terjaga kokoh di tengah volatilitas pasar keuangan global. Hal ini tercermin dari Return on Equity (ROE) yang berada di level 22,1%. Sementara itu, permodalan bank sangat kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) bank-only menyentuh 19,7%.
Efisiensi operasional juga mengalami perbaikan yang signifikan. Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) turun ke level 58,0% atau membaik 3,48% secara tahunan. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) tumbuh 11,3% menjadi Rp25,0 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank-only tercatat menyentuh Rp1.675 triliun. Jumlah ini meningkat 21,1% YoY, lebih tinggi dari pertumbuhan industri sebesar 13,2%. Struktur pendanaan didominasi oleh dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Tabungan dan giro menyentuh Rp1.201 triliun atau tumbuh 12,7% YoY.
Kualitas aset Bank Mandiri pun semakin sehat dan disiplin. Rasio kredit bermasalah atau NPL Gross bank-only terjaga di level 0,98%. Posisi ini membaik 3 bps dibandingkan Maret 2025. Perseroan memiliki bantalan pencadangan yang sangat memadai dengan NPL Coverage Ratio sebesar 245%.
Lini bisnis digital menjadi mesin pertumbuhan baru bagi emiten berkode saham BMRI ini. Aplikasi Livin’ by Mandiri membukukan frekuensi transaksi sebanyak 1.242 juta kali, naik 13% YoY. Nilai transaksinya mengenai Rp1.241 triliun atau tumbuh 16% YoY.
Untuk segmen pedagang, layanan Livin’ Merchant telah merangkul 3,3 juta mitra secara nasional. Di sektor grosir, platform Kopra by Mandiri membukukan pertumbuhan nilai transaksi sebesar 21% dalam dua tahun terakhir. Nilai transaksinya menyentuh Rp7.169 triliun pada kuartal I 2026.
Riduan menambahkan keberhasilan ini tidak melepas dari peran aktif nasabah. “Kinerja yang kami hasilkan adalah hasil nyata dari fokus sinergi yang melibatkan berbagai unsur perekonomian nasional,” tegasnya.
Bank Mandiri juga menunjukkan komitmen kuat terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Portofolio berkelanjutan perseroan tumbuh 8,8% YoY menjadi Rp320 triliun. Pembiayaan hijau (green financing) meningkat 12,6% YoY menjadi Rp167 triliun.
Sektor pertanian berkelanjutan menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp113 triliun. Diikuti oleh pembiayaan UMKM sebesar Rp153,3 triliun. Perseroan juga membukukan penurunan emisi karbon sebesar 32% dari basis tahun 2019 melalui berbagai inisiatif operasional ramah lingkungan.
Menatap sisa tahun 2026, Bank Mandiri menetapkan panduan bisnis yang optimistis sementara itu tetap waspada. Target pertumbuhan kredit dipatok pada kisaran 7% hingga 9%. Net Interest Margin (NIM) disesuaikan pada rentang 4,5% hingga 4,7%, sementara biaya kredit (Cost of Credit) dijaga pada level 0,6% hingga 0,8%.
Fondasi keuangan yang solid ini menyalurkan ruang bagi Bank Mandiri untuk terus menjalankan ekspansi. Perseroan berkomitmen menjaga ketahanan dalam menghadapi potensi gejolak pasar global ke depan. Strategi digitalisasi dan efisiensi akan terus menjadi prioritas utama untuk mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.
