Pasar saham Indonesia tertekan sepanjang 2026. Tekanan ini bukan sekadar dampak aksi lepas di pasar negara berkembang (emerging markets), melainkan mencerminkan kenaikan premi risiko Indonesia di mata investor global.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, dalam riset 2 Juni 2026, mengungkap penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 29,1% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) di level 6.195,43 pada 2 Juni 2026 menunjukkan pasar sedang menjalankan penilaian ulang terhadap risiko Indonesia.
"Aksi lepas yang berlangsung mencerminkan peningkatan premi risiko Indonesia, bukan hanya bagian dari gelombang pelemahan pasar negara berkembang," tulis Erindra dalam riset.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp1,39 Triliun di Awal Juni 2026, Tinjau Saham yang Banyak Dilepas
Berdasarkan dia, terdapat empat faktor utama yang saling berkaitan dan mendorong kenaikan premi risiko tersebut.
Pertama, meningkatnya risiko fiskal akibat reli harga minyak yang dipicu konflik Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz. Sepanjang tahun berjalan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) tercatat menyentuh US$ 88 per barel.
Ringkasnya, kedua, melemahnya prediktabilitas kebijakan pemerintah, yang tercermin dari perubahan kebijakan royalti pertambangan yang berulang serta munculnya rencana ekspor tunggal melalui BUMN.
Ringkasnya, ketiga, prospek negatif terhadap peringkat utang Indonesia yang diberikan oleh Moody's dan Fitch.
Ringkasnya, keempat, proses peninjauan MSCI yang berujung pada penghapusan enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeks global mereka.
Kombinasi faktor tersebut memicu arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia senilai US$ 3,1 miliar atau Rp55,37 triliun di sepanjang tahun 2026. Hal ini berdasarkan Erindra mencerminkan langkah investor global untuk mengurangi eksposur risiko.
Ringkasnya, meski sentimen masih menantang, BRI Danareksa melihat peluang pemulihan pasar dalam enam hingga delapan minggu ke depan.
Baca Juga: IHSG Naik 1,11% ke 6.195, Tinjau Saham yang Banyak Diborong Asing di Awal Juni 2026
Katalis pertama berasal dari berakhirnya tekanan teknikal akibat rebalancing MSCI pada 29 Mei lalu. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya empat bank terbesar nasional, dinilai telah menyerap sebagian besar tekanan lepas.
Sebagai contoh, arus keluar dana asing di saham BBCA telah menyentuh US$ 162,6 juta atau hampir menyamai estimasi agresif BRI Danareksa sebesar US$ 176 juta untuk keseluruhan proses rebalancing.
Kedua, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diestimasi mereda memasuki kuartal III-2026. Selama kuartal II, rupiah biasanya menghadapi tekanan musiman akibat repatriasi dividen dan meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk musim haji.
Ketiga, narasi perang dan reli harga minyak dinilai mendekati puncaknya. Meskipun harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi, premi risiko terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia diperkirakan mulai menyusut.
"Faktor-faktor tersebut memang belum menyelesaikan risiko terkait peringkat utang maupun ketidakpastian kebijakan, sementara itu cukup untuk mendorong rebound pasar dalam jangka pendek," kata Erindra.
BRI Danareksa menilai valuasi pasar kini telah memperhitungkan sebagian besar risiko jangka pendek.
Selisih antara earnings yield IHSG dan imbal hasil obligasi pemerintah kini menyentuh 242 basis poin, jauh di atas rata-rata 11 tahun yang berada di level negatif 31 basis poin. Artinya, investor kini menuntut kompensasi risiko yang jauh lebih besar untuk berinvestasi di saham Indonesia.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Turun Selasa (2/6) Setelah Bukukan Rekor, HPE Naik Berkat Ledakan AI
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan laba emiten tahun 2026 dari konsensus pasar senilai 14% masih relatif sejalan dengan estimasi BRI Danareksa senilai 13,4%.
Meski demikian, risiko tetap ada. Salah satunya adalah kemungkinan revisi outlook oleh S&P pada Juli 2026. Sementara itu Erindra menilai potensi tersebut sebagian besar telah tercermin dalam harga saham kini.
Adapun skenario yang lebih buruk berupa penurunan peringkat utang dinilai belum menjadi ancaman jangka pendek karena biasanya membutuhkan periode evaluasi selama 12 hingga 18 bulan. Bahkan jika berlangsung penurunan satu tingkat, peringkat Indonesia masih berada dalam kategori investment grade BBB.
Selain itu, tinjauan MSCI terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada Juni 2026 juga masih berubah menjadi faktor risiko yang bersifat biner bagi pasar.
Sejalan dengan meningkatnya premi risiko, BRI Danareksa memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 7.200 dari sebelum itu 9.440.
Penurunan target tersebut terutama disebabkan oleh dihapuskannya premi valuasi sebesar 40% yang sebelum itu diberikan kepada kelompok saham konglomerasi. Menurut Erindra, setelah MSCI menjalankan peninjauan pasar Indonesia, dasar pemberian premi tersebut tidak kembali relevan.
Target baru tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) 2026-2027 senilai 13%-14%, dengan asumsi pertumbuhan sektor perbankan yang lebih konservatif di kisaran 4%-5%.
Baca Juga: Ada Peluang Rupiah Bergerak Terangkat Terbatas, Tinjau Sentimennya
Meski target diturunkan, level tersebut masih menawarkan potensi kenaikan sekitar 17% dibanding posisi IHSG kini. Dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang menyentuh 8.600, sementara skenario pesimistis berada di level 6.550.
"Kami menilai profil risiko dan imbal hasil dari level kini masih cukup menarik dan bersifat asimetris ke arah positif," tulis Erindra.
Rekomendasi saham BRI Danareksa dibagi berubah menjadi dua kelompok overweight.
Ringkasnya, kelompok pertama adalah saham dengan bantalan valuasi kuat, yaitu sektor perbankan dan kesehatan, terdiri dari BBCA dengan target harga Rp10.900 serta MIKA dengan target harga Rp3.300.
Ringkasnya, kelompok kedua adalah saham yang mengandalkan pertumbuhan kinerja, meliputi ISAT dengan target harga Rp3.000, ANTM Rp4.900, dan TINS Rp4.500.
Ringkasnya, sementara itu, saham konsumsi seperti ICBP (target Rp10.500), INDF (Rp9.400), serta sektor perunggasan CPIN (Rp5.900) dinilai masih berada pada valuasi yang wajar karena premi risiko ekuitasnya relatif sejalan dengan IHSG secara keseluruhan.
Ringkasnya, baca Juga: Tekanan Rebalancing MSCI Mereda, IHSG Berpeluang Pulih Dalam Jangka Pendek
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

