Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah signifikan pada Jumat (24/4/2026), memperpanjang tren koreksi menjadi lima hari berturut-turut di tengah tekanan jual saham big cap, baik konglomerasi maupun bank besar.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.51 WIB, IHSG merosot 1,41 persen ke level 7.274,61. Nilai transaksi menyentuh Rp6,57 triliun dan volume perdagangan 15,02 miliar saham.
Sebanyak 548 saham turun, hanya 128 saham naik, dan 283 sisanya stagnan.
Dengan ini, IHSG telah terkoreksi 4,51 persen sepanjang pekan ini.
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga ke level terendah sepanjang masa di Rp17.320 per USD pada Kamis (23/4) hingga ketidakpastian gencatan senjata di Timur Tengah serta mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membayangi pergerakan pasar saham domestik.
Asing Terus Lego Saham
IHSG sepanjang pekan ini masih dibayangi aksi jual investor asing. Tercatat, net foreign sell di pasar reguler menyentuh Rp1,89 triliun, yang menahan ruang penguatan indeks.
Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas, Jumat (24/4), tekanan utama berasal dari saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.
