Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian tertekan pada perdagangan Kamis (21/5/2026), seiring derasnya tekanan lepas yang dipicu kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Pelemahan rupiah, arus keluar dana asing akibat rebalancing indeks MSCI dan FTSE, hingga kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga dan ekspor sumber daya alam (SDA) pemerintah berubah menjadi faktor utama yang membebani pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 13.35 WIB, IHSG tergelincir 3,71 persen ke level 6.083,89 dan bergerak mendekati area psikologis 6.000. Posisi tersebut juga berubah menjadi salah satu level terendah indeks sejak April 2025.
Nilai transaksi tercatat menyentuh Rp10,78 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 20,95 miliar saham. Sebanyak 674 saham terkoreksi, 98 saham terangkat, dan 187 saham lainnya stagnan.
Ringkasnya, bRI Danareksa Sekuritas menilai tekanan bearish di pasar saham domestik masih cukup kuat. Secara teknikal, IHSG kini bergerak di bawah garis moving average 200 hari (MA-200), yang mengindikasikan tren penurunan masih dominan.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

