Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Rabu (1/7/2026). Investor menjalankan aksi ambil untung di pasar Korea Selatan. Di sisi lain, data manufaktur yang kuat mendorong kenaikan saham di Jepang dan China.
Mengutip CNBC, pergerakan pasar berlangsung setelah kawasan Asia membukukan kuartal terkuat dalam beberapa tahun terakhir. “Korea Selatan dan Jepang memimpin kenaikan regional karena investor berbondong-bondong membeli saham kecerdasan buatan dan semikonduktor,” tulis laporan Investing.com oleh Roushni Nair.
Indeks Kospi di Korea Selatan memimpin penurunan dengan merosot 2,04% ke posisi 8.303,41. Pelemahan ini berlangsung meski data ekspor Juni meroket 70,9% secara tahunan. Pelaku pasar memilih mencairkan keuntungan setelah indeks tersebut meroket hampir 65% dalam tiga bulan hingga Juni.
Saham SK Holdings Co Ltd terjungkal lebih dari 8%. Kinerja ini berada di bawah performa Kospi secara keseluruhan. Padahal perusahaan baru saja mengumumkan kerja sama energi terbarukan bernilai 2 triliun won atau 1,3 miliar USD dengan KKR.
Bursa Jepang justru membukukan kenaikan. Indeks Nikkei 225 terangkat 0,60% dan berakhir di level 70.486,00. Sentimen positif ini didorong hasil survei Tankan Bank of Japan (BoJ) yang menunjukkan peningkatan sentimen manufaktur besar pada kuartal kedua.
Beberapa saham di Tokyo mencetak rekor tertinggi. SUMCO Corp meroket 17,37% ke harga 4.729,00. Taiyo Yuden Co., Ltd. naik 12,43% ke posisi 22.655,00. Dainippon Screen Mfg. Co., Ltd. juga terangkat 9,46% ke level 19.490,00.
Pasar saham China daratan bergerak cukup stabil. Indeks Shanghai Composite naik 0,44% ke level 4.112,44. Sementara itu, indeks CSI 300 mengalami penurunan tipis 0,41% ke posisi 4.958,98. Aktivitas manufaktur China tetap berada di zona ekspansi pada bulan Juni.
Bursa Australia mengalami pelemahan. Indeks S&P/ASX 200 turun 0,64% ke level 8.722,90. Penurunan ini dipicu data persetujuan bangunan Australia yang jatuh 1,1% di luar dugaan pada bulan Mei.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia justru meroket lebih dari 1,3%. Kepercayaan investor tetap kuat karena Indonesia mampu mempertahankan surplus perdagangan. Inflasi dalam negeri pada bulan Juni juga tercatat mengalami percepatan moderat.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah masih berubah menjadi perhatian pasar. Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan Amerika Serikat (AS) di Qatar. Meski begitu, negosiasi melalui mediator masih berjalan untuk memastikan Selat Hormuz masih terbuka.
Bank of America menaikkan target akhir tahun untuk indeks Nikkei 225 dan Topix. Nair mengungkap kenaikan ini didasarkan pada permintaan AI yang lebih kuat dari perkiraan. Selain itu, ada peluang besar jalur pengiriman minyak utama tetap aman.
Ringkasnya, kini investor mengalihkan perhatian pada sinyal Bank Sentral AS atau Federal Reserve. Pasar menanti laporan tenaga kerja AS pada hari Kamis dan dimulainya musim laporan keuangan perusahaan. Perkembangan di Timur Tengah juga terus dipantau untuk melihat arah selera risiko investor.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

