Emiten pelat merah, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tengah menjalankan streamlining alias perampingan sebagai strategi penataan portofolio non-core. Langkah ini dinilai akan menjadi sentimen positif bagi Telkom.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan streamlining ini dilakukan agar Telkom berpotensi kembali mendorong kontribusi yang lebih optimal dan efisiensi operasional serta meningkatkan keunggulan pada bisnis inti.
Ini mulai dari proses divestasi AdMedika dan anak usahanya TelkoMedika yang telah menyentuh tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.
Ringkasnya, baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Suntik Modal Anak Usaha Rp150 Miliar, Ekspansi Bisnis Kapal
Dian menjelaskan divestasi penuh atas AdMedika dan TelkoMedika juga diproyeksikan berkontribusi terhadap peningkatan arus dividen alias dividend stream bagi Telkom sebagai induk usaha.
Ringkasnya, “Beberapa entitas dengan bisnis serupa atau tidak sesuai dengan core business di ekosistem TelkomGroup juga sedang dirampingkan,” kata Dian dalam keterangan resmi, Selasa (12/5).
Ringkasnya, dia bilang Telkom juga sedang berfokus pada upaya peningkatan nilai tambah atau unlock value, salah satunya melalui penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital yaitu konektivitas fiber.
“Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets (ROA), secara bersamaan memperluas kontribusi Telkom dalam mendukung konektivitas nasional,” tuturnya.
Pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025 yang adalah fase carve-out tahap pertama.
Dian menjelaskan spin off aset fiber ini adalah strategi Telkom sebagai strategic holding yang lebih fokus pada penguatan penciptaan nilai dan pengelolaan portofolio bisnis yang lebih optimal serta percepatan eksekusi strategi.
Telkom juga tengah menjalankan Modus-operandi shift, yakni bergeser operating holding menjadi strategic holding dengan menjalankan delayering untuk memperkuat fokus bisnis di empat segmen Operating Company (OpCo), yakni pada segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT dan International.
“Telkom sebagai entitas strategic holding nantinya diproyeksikan berfokus pada sinergi penciptaan nilai dan penguatan tata kelola antar segmen, sementara operasional bisnis dijalankan di entitas OpCo dengan lini usaha yang terfokus,” kata Dian.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menilai perusahaan seperti Telkom akan lebih diuntungkan dari efisiensi alhasil perolehan laba bersih bisa mengalami peningkatan.
“Perusahaan seperti Telkom yang berubah menjadi perusahaan konglomerasi (holding company) diproyeksikan diuntungkan dari cerita divestasi anak usahanya, yang diproyeksikan menambah nilai,” jelasnya dalam paparan, Selasa (12/5).
Ringkasnya, baca Juga: Pelemahan Rupiah Dorong Minat Investasi Reksadana Dolar AS
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

