PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan kinerja keuangan yang kurang menggembirakan di sepanjang 2025. Di mana, pendapatan dan laba bersih TLKM turun di tahun sebelumnya, dipengaruhi oleh penyajian ulang dan percepatan depresiasi yang dilakukan Telkom.
Melansir laporan keuangan yang dirilis pada Selasa (12/5), TLKM membukukan pendapatan senilai Rp145,74 triliun. Ini mengalami pelemahan sekitar 2,15% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp149,96 triliun.
Adapun laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Telkom menyusut 20,48% YoY menjadi Rp17,81 triliun di sepanjang 2025 dari raihan 2024 yang menyentuh Rp22,40 triliun.
Ringkasnya, senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menjelaskan kinerja Telkom tahun buku 2025 lebih banyak dipengaruhi faktor non-operasional seperti percepatan depresiasi aset dan penyesuaian klasifikasi aset tertentu.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Astra (ASII) Usai Penjualan Meningkat di April 2026
“Alhasil dampaknya cenderung bersifat sementara terhadap laba bersih. Dari sisi operasional, bisnis inti Telkom masih relatif solid, terutama data dan broadband,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Ringkasnya, dalam jangka panjang, Sukarno langkah ini justru bisa membuat struktur aset dan efisiensi perseroan lebih sehat. Dia menilai masih ada potensi perbaikan pendapatan untuk sepanjang 2026.
Ringkasnya, “Potensi perbaikan top line masih terbuka didorong pertumbuhan data, IndiHome, dan monetisasi bisnis digital meski kemungkinan masih bertahap,” katanya.
Lebih lanjut, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan akumulasi TLKM dengan target harga di Rp4.000 per saham. Pada akhir perdagangan Selasa (12/5), TLKM parkir di level Rp2.950 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

