IHSG kembali ditutup terkoreksi -3,54% ke level 6.094,9 pada hari ini, Kamis (21/5), alhasil membuat IHSG telah turun -15,05% selama 8 hari perdagangan beruntun (8 Mei 2026 hingga 21 Mei 2026). Level penutupan IHSG pada hari ini juga menandakan bahwa IHSG telah turun -33,17% dari peak–nya di level 9.120,2 pada penutupan bursa 20 Januari 2026, serta kini hanya lebih tinggi +3,6% dibandingkan titik terendah selama 2025 di level 5.882,6 yang dicetak pada 8 April 2025.
Sebagai catatan, pelemahan IHSG hari ini justru berlangsung di tengah penguatan bursa utama regional serta penurunan harga minyak dunia, menyusul perkembangan positif terkait pembahasan proposal damai antara AS dan Iran.
Kontribusi utama penurunan IHSG pada hari ini adalah $ASII (-6,28%), $BRMS (-14,39%), $BYAN (-6,47%), $MORA (-8,77%), $BRPT (-11,05%), sementara secara keseluruhan IHSG membukukan net foreign outflow sebesar Rp544,9 M.
Kami membukukan pelemahan IHSG selama sepekan terakhir ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain pelemahan rupiah, rebalancing indeks global, serta overhang terkait regulasi sektor komoditas seperti royalti dan skema ekspor komoditas 1 pintu:
Ringkasnya, overhang Skema Badan Ekspor
Ringkasnya, rebalancing MSCI & FTSE
Ringkasnya, “Kapan market rebound? Kita sudah tau jawabannya. Ketika air mulai masuk kembali ke dalam kolam.” — Hauw2x
Banyak investor berharap pasar dalam waktu dekat rebound hanya karena harga sudah turun cukup dalam, padahal arah pasar sangat dipengaruhi oleh kondisi likuiditas yang beredar. Dalam tulisannya, Stockbitor Hauw2x menjelaskan bahwa pasar ibarat kolam yang membutuhkan aliran air agar aset di dalamnya bisa tetap mengapung.
Ketika likuiditas global mengetat akibat kenaikan suku bunga, yield obligasi, dan arus dana keluar dari emerging market, tekanan terhadap pasar saham berubah menjadi semakin besar. Faktor seperti penurunan bobot MSCI, kenaikan BI rate, hingga kebijakan global membuat dana cenderung keluar dari pasar saham menuju instrumen yang dianggap lebih aman.
Dengan demikian, rebound bukan hanya soal valuasi murah atau harapan semata, melainkan tentang kapan likuiditas kembali masuk ke pasar dan kepercayaan investor mulai pulih. Baca selengkapnya di sini!
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

