NPM berapa yang bagus?
Tergantung sektor. Untuk consumer goods 10-20% bagus, teknologi 15-30% bagus, perbankan 20-35% bagus, konstruksi 3-8% sudah wajar. Selalu bandingkan dalam satu sektor.
2) Fundamental Analysis
Revenue besar belum tentu bagus kalau profitnya tipis. NPM menunjukkan berapa persen dari setiap Rupiah pendapatan yang benar-benar jadi keuntungan bersih. Ini perbedaan antara perusahaan yang sibuk tapi miskin vs yang efisien dan menguntungkan.
NPM (Net Profit Margin) = Laba Bersih / Pendapatan (Revenue) x 100%. NPM 15% artinya dari setiap Rp100 pendapatan, perusahaan menyimpan Rp15 sebagai keuntungan bersih setelah semua biaya, pajak, dan bunga dibayar.
Bayangin dua toko online. Toko A omzet Rp1 miliar/bulan tapi untung bersih cuma Rp10 juta (NPM 1%). Toko B omzet Rp200 juta/bulan tapi untung bersih Rp40 juta (NPM 20%). Mana yang lebih sehat? Toko B! Revenue besar tanpa margin yang sehat = kerja keras tapi nggak kaya.
Kalau Buat Anak SD
Si A jualan es laku Rp100.000 sehari, tapi modal bahan Rp98.000, sisa cuma Rp2.000 (NPM 2%). Si B laku cuma Rp50.000 sehari, modal Rp40.000, sisa Rp10.000 (NPM 20%). B lebih sehat — walau jualan lebih dikit, kantongnya lebih tebel. NPM ngukur: dari setiap Rp100 penjualan, berapa yang beneran jadi untung.
Perusahaan consumer goods seperti UNVR biasanya punya NPM 15-20% karena merek premium. Perusahaan konstruksi atau trading biasanya NPM-nya lebih tipis (2-5%) karena persaingan ketat dan biaya tinggi. Selalu bandingkan NPM dalam satu sektor yang sama.
Setelah paham konsep ini, langsung praktekkan ke tools agar keputusan lebih objektif dan bisa dievaluasi.
Buka Kalkulator Harga WajarNPM berapa yang bagus?
Tergantung sektor. Untuk consumer goods 10-20% bagus, teknologi 15-30% bagus, perbankan 20-35% bagus, konstruksi 3-8% sudah wajar. Selalu bandingkan dalam satu sektor.
Artikel ini membantu?
Memuat…